My name

My name

Kamis, 29 Desember 2016

Saatnya bangkit dan percaya diri

Aku pernah terbangun dalam keadaan gamang, sebab harapan yang terlalu tinggi. Pernah juga terbangun dalam keadaan mati, sebab dibunuh oleh mimpi. Tapi sekali, aku terbangun dalam keadaan hidup, namun segalanya telah berhenti. Aku tidak mati, hanya cerita yang kuakhiri. Lalu terjerat ingatanku, pada durma yang menyebar kebencian. Terperosok tubuhku dalam nafsu yang tak mengenal majikan.

Aku terlalu mengabaikan logika, hingga perasaan merajai seluruh indera. Aku buta, pada kenyataan. Aku tuli, pada bisik-bisik kebenaran. Aku kebas, pada sentuhan. Aku bisu, pada kejujuran. Dan hanya getir, yang kukenal di ujung bibir. Kau pernah membawaku pada sebuah titik, dan mengikatku hingga tak berkutik. Lalu kau biarkan segerombolan burung-burung pemakan bangkai, menghabisi harapanku yang abai.

Kala itu, aku mentitikan kisahku. Aku mengakhiri cerita yang bermain di kepala–yang di dalamnya, kau lah pemeran utama yang kusanjung di hadapan Tuhan. Kemudian lahir sebuah pertanyaan, kau pergi dengan tawa atau airmata.

Namun yang kutahu, ketika kutitikan kisahku, Tuhan mengenalkanku pada koma; dimana kisah hanya dipisah unsurnya, bukan dihentikan ceritanya.

Dan kini, aku terbangun dalam keadaan mengerti, bahwa bagi Tuhan, kata "selamanya", adalah kata yang memiliki makna terlalu lama. Lalu koma, layaknya sosok senja yang bertugas membagi masa. Dan kau; pagi yang kurelakan, teruntuk pagi yang lain–yang juga akan digantikan. Hingga malam, akan kembali menjadi teman setia, dalam perjalanan.

Kamu yang sedang tak ingat kapan terakhir kali menghirup udara malam sehangat ini. Kamu yang sedang tak ingat kapan terakhir kali tertawa lepas tanpa beban di hati. Ah, mungkinkah kesakitan kemaren telah membuat benang-benang halus yang bekerja dalam otakmu melupakan fungsinya yang semestinya.
Otot dan otakmu dipenuhi rasa butuh pada hal-hal yang pernah membuatmu merasa bahagia dan bahkan membuat otakmu merekamnya sebagai bahagia yang luar biasa. Kini, rasa butuh yang memanipulasi diri sebagai rindu membuatmu kembali mengulang kenangan yang (pernah) menjadi tema utamamu dalam doa pada Penguasa semesta. Dan selain tujuan bahwa perasaan ini harus tersampaikan, tak ada lagi yang kamu inginkan lagi dalam pikiran.

Memang sebagian dari hatiku yang belum rela melepaskan akan semakin mudah di manipulasi oleh rindu. And I know what, rasa rindu kurang merangsang tanpa dibubuhi kenang yang tak ingin dibuang. Yes, alasan kesekian untuk terus berada pada zona yang menurutku nyaman.

Harusnya di sebelah kanan ruang di hati atau di bidang yang masih tampak kosong itu dibubuhi doa sebelum jatuh cinta dan patah karnanya. Agar kelak jika cinta mengarahkan mata pedangnya padaku, aku tidak harus mati olehnya.

Pernahkah aku mendengar atau sekedar mendengar atau setidaknya ada yang memaksaku mendengar bahwa kegagalan hanyalah bagian dari proses untuk menemukan pilihan yang tepat. Hati yang bisa tabah karenanya akan menemukan tujuan akhir yang menurut keyakinannya adalah sebenar-benarnya; Happy ending.

Lalu jika aku merasa yakin suatu saat waktu atau sang pemilik semesta memberiku yang terbaik. Untuk apa bersedih terus dan menangis? Jika ku juga percaya ada seseorang yang setia mendoakan kebaikanku. Lalu apakah aku masih terus bersedih? Berapa tissu yang harus ku korbankan untuk menghapus kesedihanku itu?
Dan wahai hati, janganlah terus merutuki kecewa, sakit, dan luka. Lalu memaki dia yang pernah ku jadikan ratu. Karena yang sebaik-baiknya mencinta, tahu kapan harus melepas dan kembali terbang bebas tanpa beban yang mengikat.
Jika sebagian dari kalian melihatku berbeda maka biarlah aku berbeda dengan jalan yang aku pilih. Tidak ada yang sia-sia, selama mempercayakan segala hal baik pada Penciptamu. Kegagalan jangan menghalangi kamu untuk terus berkarya. Saatnya bangkit dan percaya diri.

Kamis, 22 Desember 2016

Untukmu yang Membuatku Nyaman, Walau Kita Hanya ‘Berteman’

1. ENTAH MENGAPA DIDEKATMU AKU MERASA BAHAGIA YANG BEGITU HEBATNYA
Dear you, berada di dekatmu, duduk berdua, bercanda dan memulai topik cerita bersama, sejak saat itu aku mengenal arti kata “nyaman” yang sebenarnya. Berada didekatmu membuatku merasa aman dan jauh dari hal-hal yang menyakitkan. Walau berdua di tempat-tempat sederhana tapi entah rasanya seperti di surga. Bagiku ini semua bukan tentang parasmu, bagiku ini adalah menit-menit yang berharga. Bagiku cara yang sederhana inilah yang membuatku bahagia.

2. MELIHATMU TERTAWA ADALAH SALAH SATU HAL YANG KU SUKA
Dear you, melihatmu tersenyum atau tertawa, adalah hal yang aku suka. Entah sepertinya senyummu adalah ukiran Tuhan yang sempurna. Senyum mu tak hanya mengalihkan duniaku saja, tapi juga kondisi hatiku yang terkadang sedang kalut tak menentu. Bagiku melihatmu tersenyum sudah menjadi rutinitas yang tidak pernah membosankan.

3. PERLAHAN AKU INGIN MENGERTIMU LEBIH JAUH LAGI
Dear you, selain melihatmu tersenyum, mencoba untuk mengerti dirimu lebih jauh adalah hobi ku saat ini. Mengerti sifatmu, apa yang kamu suka dan apa yang tidak kamu suka, dan masih banyak lagi hal darimu yang sepertinya tersirat penuh arti. Aku ingin lebih jauh mengerti duniamu, mengerti caranya membuat orang lain bahagia dan tertawa bersama lewat cara-cara sederhana.

4. AKU SELALU INGIN KAMU BAIK-BAIK SAJA, KARENA ITU NAMAMU SELALU KUSEBUT DALAM DOA
Dear you, rasanya aku tak pernah lupa untuk membawa namamu selalu dalam doa kepada Tuhanku. Aku ingin kamu selalu sehat dan bahagia, seperti kamu membuatku bahagia, semoga kamu selalu diberi kelancaran dan riski nya, semoga kamu selalu punya hasrat untuk meraih masa depan dan menggapai asa. Amin.

5. MESKI BELUM TERIKAT SEBUAH HUBUNGAN, BAGIKU KAMU LEBIH DARI SEKEDAR TEMAN
Dear you, Bagiku kamu bukan seperti teman-temanku yang lain, meski diantara kita masih terjalin ikatan teman belaka namun jika melihatmu terluka aku juga merasa. Segala perhatian dan perlakuanmu telah berhasil membuatku nyaman. Bagiku saat bersamamu untuk sedih pun tak ku temukan alasan. Yang aku tau hanya kenyamanan, kebahagiaan dan keindahan.

6. MESKI KADANG RASA NYAMAN INI BERLEBIHAN, SEMUA KU KEMBALIKAN LAGI KEPADA TUHAN
Dear you, seperti layaknya manusia biasa kita takkan pernah tau apa yang akan terjadi di depan nanti, jika sekarang ini kita sedang asyik menjalin pertemanan yang membahagiakan,semua ku serahkan kembali kepada Tuhan. Jika Tuhan memang menakdirkan kita satu dalam jenjang keseriusan yang lebih membahagiakan maka kita pun takkan terpisahkan, namun jika Tuhan memang berkehendak kita hanya ditakdirkan menjadi teman, maka masing-masing dari kita akan bertemu dengan yang lain menjalin hubungan keseriusan. Karena memaksa untuk memiliki seutuhnya hanya akan berakhir sia-sia dan tentunya luka.

Untukmu yang saat ini selalu mengisi hari-hariku walau masih dalam lingkup sebuah pertemanan, semoga kamu selalu bahagia seperti kamu saat membuatku bahagia. Semoga kelak kita berujung dalam sebuah kepastian yang nyata. Terima kasih karena selalu membuatku nyaman, teman.

Senin, 31 Oktober 2016

sorot mata itu yang seolah bahagia namun sendu di dalamnya

Usai kepergianmu, jiwaku merasa demikian kosong. Entah mengapa aku bisa terbawa candu bersamamu. Namun, kini komunikasi kita tak lagi seperti dulu. Aku tak tahu apa alasanmu berlaku demikian kepadaku. Dan siang itu di akhir pertemuan kita,  Kupandang sorot matamu yang seolah bahagia namun sendu di dalamnya. Dengan mata yang digenangi air mata, aku bertanya-tanya di hadapanmu. Mengapa kepergian lelaki sepertiku bisa membuatmu demikian hancur? apakah  aku terlambat hadir di hidupmu ketika kamu sudah bersamanya? Mengapa harus ada  perpisahan ketika kau mulai nyaman dengan hubungan kita yang kau sembunyikan? 
Namun, Mengapa kau ajari aku bahagia dan kau rangkai kenangan manis bersama namun pada akhirnya kau memilih dia? 
Aku memberanikan diri menatap matamu siang itu. Aku seperti ingin berteriak sekencang-kencangnya bahwa aku mengharapkanmu. Lebih lekat aku menatap, aku ingin menyadarkan diriku sendiri bahwa orang yang siang itu tersenyum di depanku bukanlah sosokmu yang dulu. Namun segala keinginanku fatamorgana. Kamu mulai berbicara, dan perlahan menjelaskan mengapa kamu memilih pergi. Katamu, kita tidak bisa melangkah bersama lagi, dan bukan aku yang salah ketika kamu memutuskan untuk mengakhiri. 
Namun dengan segala penjelasanmu mengapa aku masih bertanya-tanya dan anganmu selalu berharap aku kambali?
Aku melihat raut wajahmu lagi dan lagi. Aku tau pada dasarnya salah satu dari kita tak ingin hubungan ini berakhir. Namun, kamulah disini yang berperan sebagai tokoh utama. Di persimpangan jalan yang menuntutmu harus memilih aku atau dia, akhirnya kamu memilih dia. Katamu, kebersamaan kita tidak akan membuatku bahagia. Ada hati yang demikian hancur jika kamu memilihku. Ada sesuatu yang tidak akan pernah bisa membuat kita menyatu. Akan ada luka baru yang lebih menyakitkan daripada kehilangan dirimu. Dengan berbagai pertimbangan itu, kamu memilih meninggalkanku. Aku bisa apa? 
Bukan hal yang mudah bagiku, menerima kepergianmu. Namun aku akan belajar untuk itu.
Aku butuh waktu untuk menata hati. Menenangkan batin bahwa aku perlu sadar kebersamaan kita tak akan pernah ada lagi. Aku harus paham bahwa perasaan keluargamu lebih utama dibanding lukaku ditinggalkan olehmu. Aku harus siap menerima segala bentuk caci dan hujat ketika orang-orang di luar sana tau aku pernah mengukir kisah keliru bersamamu.
Aku menuntun diriku sendiri untuk tidak lagi mengingatmu, menghapus semua yang berkaitan denganmu, bahkan belajar membencimu.
Siang itu, setelah cukup mendengar segala penjelasanmu, aku menyuruhmu berlalu dari hadapanku, Kau meninggalkanku. Aku masih ingin melihat dirimu yang pernah menjadi satu-satunya bagiku. Rasanya aku ingin menahanmu untuk selalu berada di dekatku. Namun keadaan yang seolah kembali menjelaskan, bahwa yang terbaik dari hubungan kita adalah berpisah. Aku mengingat satu potret kita berdua, sebagai kenangan bahwa pernah ada kisah diantara kita. Senyum kita abadi dalam foto itu, meskipun batin kita demikian pilu. 
Namun,perlu kau tau. Akuu hanya tidak ingin melihatmu demikian hancur karena selalu mengenang kebersamaan kita yang diharuskan menjumpai perpisahan. 
Kita sama-sama menata hati. Mengikhlaskan diri bahwa suatu saat satu sama lain akan menemukan pengganti.

Kamis, 20 Oktober 2016

Mengikhlaskan, Percaya pada Tuhan Sepenuhnya

Aku tak menampik mengatakan aku pernah bersama denganmu, mengisi hari-hariku dengan senyum dan wajahmu, memimpikan hal-hal indah dan masa depan yang akan kita bangun di kemudian hari. sampai kita benar-benar lupa, bahwa ada Tuhan yang akan mengatur semuanya.

Setidaknya aku masih bisa bersyukur, ketika Tuhan menyadarkan bahwa apa yang aku jalani adalah salah. Aku berterima kasih sekali padamu, karena dengan tegas memutuskan mengakhiri kisah haram itu. Bohong, jika aku katakan aku tidak akan mengingatmu dan akan melepaskanmu dengan mudah.
Berkali-kali aku coba untuk pergi darimu, menganggap semuanya akan baik-baik saja, berkali-kali pula aku harus tega menikam hatiku sendiri untuk memendam namamu di dalam kepalaku.
Aku tidak tahu, tetapi mungkin Tuhan memang tengah menyiapkan kisah terindah untuk diri ku. Rencana yang tak akan pernah ku duga. Bukankah Tuhan memang sudah berjanji bahwa dia akan menyiapkan yang terbaik untuk hambanya?, lalu akan kubiarkan diri ini pasrah, mengikuti alur kemana takdir Tuhan membawaku pergi, kepada siapa hati ini di labuhkan kembali, tentu dengan Ridho dariNya. Aku tak akan protes, tak akan banyak bicara, aku hanya ingin mencintai kehilangan ini dengan sebaik-baiknya, menjalani hari-hari dengan tulus.
Mungkin, tangis yang kau beri saat itu adalah cara Tuhan menyadarkanku, bahwa Cinta di dunia ini hanya ada satu, dan karena kehilangan ini pula aku bisa kembali mendekat pada-Nya.
Terkadang rindu memang tak pernah berbaik hati membiarkan aku tenang, dia selalu datang, mengetuk pintu hati ini meminta agar tetap dizinkan masuk. aku tak akan membunuh rasa rindu itu, aku akan memeluknya dalam bait-bait doa yang kupanjatkan kepadaNya di atas sajadah dalam sujudku.Mungkin, Tuhan ingin kita sama – sama saling merindukan dalam bait-bait Doa yang kita panjatkan kepadaNya. Dan malam ini aku kembali hadir dalam cerita yang sama, cerita yang tiada hentinya aku beritakan pada duniaku.Wahai wanita yang dulu selalu menghabiskan waktunya untukku, apa kabarmu hari ini? Semoga selalu sehat ya, baik hati maupun raganya.
Aku hanyalah bercerita pada duniaku, terlebih lagi pada Penciptaku. Sudah lelah rasanya aku menceritan kepada mereka, bahkan mereka hampir muak ketika yang aku ceritakan hanyalah tentang masalah ini saja. Sudah banyak sahabat dan teman menasehatiku untuk segera menjauhimu,

Aku masih ingat jelas pertama kali kau menginginkanku untuk menjadi pilihan hatimu, entah itu karena suatu kebetulan atau karena kekosongan harimu. Dulu kau banyak menghabiskan waktu bersamaku, semua berjalan begitu menyenangkan hingga aku lupa jika suatu saat nanti bahagia itu tergantikan dengan luka, apa aku bisa tetap berdiri tegar dihadapanmu? Entahlah, aku hampir lupa untuk memikirkan jawaban tersebut, pertanyaan yang selalu muncul ketika aku hendak terlelap di malam hari.
Kali ini pertanyaan itu hadir, kau menghadirkan luka itu menggantikan bahagia yang pernah kau beri. Namun, aku masih tetap ikhlas memaafkan, begitu terus hingga berulang kali dan tanpa sadar kau berjanji untuk tidak mengulanginya kembali, dengan ikhlas aku masih tetap memaafkanmu, mencoba mengobati luka yang kau beri dengan cara ku sendiri. Hingga aku bertanya sebenarnya siapa aku di hidupmu? Adakah posisiku di hatimu? Mengapa selalu berulang kau beri luka yang sama?  jika aku hanya menjadi orang yang kau cari ketika kau sepi, haruskah luka ini kau lakukan secara berulang-ulang? Aku memang tak pernah memperlihatkan lukaku sepenuhnya kepadamu. Tapi sadarkah kau? Aku adalah luka yang tak berdarah, tak memiliki wujud untuk kau sembuhkan. Karna aku sadar takkan mungkin kau sanggup untuk menyembuhkan luka ini. Sadarlah kelak akan ada waktunya kau merasakan apa yang aku rasakan. Bukan percaya karma, tapi inilah hidup. Apa yang kau tuai saat ini akan kau peroleh suatu saat nanti. Namun tenanglah, bukan maksudku untuk berbalas dendam. Cukuplah hanya perasaanku yang tak pernah terbalaskan, bukan yang lain.
Kurasa inilah akhir dari perjuanganku, kelak wanita yang ku impikan akan hadir dengan sejuta kebahagiaan untukku. Maafkan aku yang tak pernah bisa untuk mewujudkan kebahagiaanmu.

Sabtu, 15 Oktober 2016

Selama Ini Aku Anggap Engkau Benar-Benar Cinta Kepadaku Dan Akhirnya Kutahu Kau Tak Mencintaiku

         Aku yang salah atas semua rasa sakit yang kini aku rasakan, karena sebab anggapanku inilah akhirnya aku terluka. Dan menyalahkanmu atas keadaan inipun rasanya salah juga jika aku lakukan. Namun tidak menyalahkanmu juga terlalu sulit bagiku, sebab dirimu menempatkan dirimu sendiri untuk disalahkan. Bagaimana bisa aku tidak menyalahkanmu saat kau juga mengatakan cinta meski kenyataannya adalaah dusta.

Selama Ini Aku Anggap Engkau Benar-Benar Cinta Padaku Ternyata Aku Salah Mengartikan Maksud Hatimu

         Selama ini aku anggap engakau benar-benar tulus mencintaiku, ternyata aku salah mengartikan maksud hatimu. Aku salah menggapmu butuh cinta, nyatanya kamu tidak butuh cinta. Kau hanya butuh ada seseorang yang membuatmu senang, kau tak peduli apakah kau ada hati untuk orang itu atau tidak.
 
 
Selama Ini Aku Kira Kau Peduli Akan Diriku Ternyata Kau Hanya Butuh Diriku          Ku kira kau baik dan memperhatikanku karena kau peduli akan diriku, nyatanya aku salah besar karena mengagap seperti itu. Kau hanya butuh diri ku namun tidak peduli akan diriku. Kau butuh bersamaku karena kau tak ingin kesepian, bukan karena kau ingin menjadikanku yang kau butuhkan. Ku kira kau selalu menemaniku karena peduli denganku ternyata kau bersamaku hanya untuk mengisi kekosongan waktumu.

Aku Pikir Tidak Ada Alasan Bagimu Untuk Menyakitiku, Ternyata Tak Butuh Alasan Untuk Menyakiti Bagi Orang Yang Tak Punya Hati Sepertimu

          Selama ini aku selalu memiliki keyakinan bahwa tidak mungkin kamu akan menyakiti diriku, karena kau tak punya alasan untuk menyakitiku. Nyatanya aku salah besar karena bagi seseorang yang tak punya hati tidak butuh ada alasan untuk menyakiti orang lain, bahkan seseorang yang tidak punya salah atau seseorang yang selalu baik padaku

 
Kini Aku Baru Tau Bahwa Kau Tak Pernah Merasa Seperti Yang Ku Rasakan Kepadamu
Dan kini pedih rasanya hatiku setelah ku tau bahwa kau tak merasa yang sama sepertiku, berat rasanya untuk menerima kenyataan bahwa cintamu hanya palsu, cintamu hanya untuk kesenanganmu. Dan jikapun kamu menggapku ada namun aku tidaklah berharga sedikitpun.
 
Aku Yang Terlalu Bodoh Karena Tidak Bisa Membedakan Antara Dusta Dan Cinta Atau Kamu Yang Terlalu Pintar Membuat Dusta Terlihat Cinta
          Mengapa denganmu cinta dan dusta itu menjadi terlihat tak ada bedanya, atau karena bersamamu aku menjadi buta? Hingga tak dapat membedakan dusta dan cinta. Dan mengapa baru sekarang aku tau bahwa kau tak mencintaiku, mengapa tidak dari dulu?
 

Selasa, 11 Oktober 2016

Hei Kamu !!!


Hey Kamu,
Aku masih berdiri disini,
Mencoba mengoreksi diri dimana letak kesalahan dan kekuranganku?
Kuakui memang tidak ada manusia yang sempurna dan kaupun ternyata tidak memilih kesempurnaan
Jika saja bisa kuteriakan kepadamu, dimana salahku? Dimana kekuranganku?
Andai saja kau bersedia menjawabnya, mungkin jiwa ini akan terbebas dari gelisah
Seperti yang kau katakan bahwa saat ini kau merasa inilah yang terbaik
Pertanyaannya terbaik untuk siapa?


Apakah pernah kau pikirkan betapa tercabiknya hatiku? 
Apakah pernah kau pikirkan bagaimana kondisiku menjelang hari bahagiamu?
Sementara diluar sana, hanya ucapan-ucapan klise yang menghiasi telingaku
Klise karena mereka tidak pernah tahu bagaimana aku berjuang menggelepar sendiri menghakimi diriku yang tidak pernah bisa melepaskan ingatan tentangmu
Merutuki malamku yang selalu dihiasi mimpi tentangmu
Bahkan di alam bawah sadar pun kau masih saja bertahta dengan pongah
Bagaimana aku bisa dengan mudah menyingkirkanmu dari pikiranku kalau ingatan tentangmu adalah ingatan tentang kekalahan terbesarku dalam hidupku dimana aku selalu terdidik untuk menjadi pemenang

Kau adalah kehilangan yang mungkin paling dalam sejauh ini
Rasa penasaran yang paling besar dan kesedihan yang tiada duanya
Dulu atas nama komitmen sekuat tenaga kamu selalu mencoba menghiburku,

Pernahkah kau tanya padaku apakah aku tersakiti? Apakah aku baik-baik saja?
Kau menumbuhkan harap kala itu dan tiba tiba kau ingin aku menghilangkannnya dalam sekejap mata
Kau bahkan tidak memberiku kesempatan untuk bersaing dengan adil, Kau hanya menjustifikasi dari satu perspektif saja tentang sosok ideal seorang wanita

Kau tidak pernah berusaha mengenal hatiku, dimana banyak orang yang ingin mengenalnya namun tak kuizinkan karena tanpa sadar telah kuberikan padamu yang sayangnya kau sia-siakan begitu saja
Tidak sedikitpun terlintas di benakku untuk mengganggumu lagi, tidak. Karena aku sudah kapok merasakan pahitnya sakit hati dan sudah cukup air mata ini
Terlebih dari semuanya. Aku punya harga diri yang megah, aku tidak akan biarkan kau injak-injak harga diri ku lagi hanya demi dia yang bagiku tidak seberapa
Aku tidak akan memperdulikan lagi apa yang terjadi dengan kau dan dia
Mendoakan, maaf aku tidak mau karena aku bukanlah seorang munafik
Merutuki, maaf itu pun tidak mau, tidak ada gunanya
Yang akan kulakukan hanyalah belajar untuk tidak memperdulikan segala hal tentangmu lagi karena aku percaya :
The opposite of love isn’t hate but doesn’t care 

Saat aku tidak lagi memperdulikan semua tentangmu, saat itulah aku kembali menjadi pemenangnya
Ini bukan soal jadi yang terbaik dan memantaskan diri
Banyak mereka yang belum pantas
Jika Jodoh itu adalah cerminan diri kita, aku setuju karena berarti dirimu bukan cerminan diriku
Aku harus terus mengasah diri dan memantaskan diri agar cerminan diriku juga lebih baik
Hanya itu saja
Keyakinanku pada Allah SWT bahwa ia menghadirkanmu dalam hidupku jika bukan untuk menyatukan kita tentulah untuk memberikanku sebuah pelajaran berharga
Mungkin sekarang belum kutemukan jawaban kenapa jalan kita tidak direstuinya?
Tapi berdasarkan pengalaman, akan segera kutemukan jawabannya dan tentunya itu pasti yang terbaik untukku
Hey kamu,
Tidakkah kau pernah memikirkan sedikit saja bagaimana perasaanku sekarang diatas kebahagiaanmu?
Jika tidak pernah, mungkin itu jawaban Tuhan,

Hey kamu, 
Hatiku mungkin saat itu berhenti di kamu tapi tidak dengan langkah kakiku dan hanya masalah waktu dimana hatiku akan mengikuti jejak langkah kakiku 
Hey kamu,
Maaf tidak ada ucapan apalagi doa
karena aku belajar tentang ketidak pedulian darimu
Ahhh sudahlah tiada guna seribu kata terucap dan tersimpan lagi tentangmu
Hanya satu yang pasti, aku akan selalu bahagia dengan ataupun tanpamu
Maaf tapi ternyata kamu tidak cukup hebat untuk menghempaskanku
Selamat menikmati resiko hidup dari pilihanmu sendiri, baik atau buruk
Semoga di masa depan kita bertemu lagi di saat aku sudah lebih bahagia darimu
Di saat aku sudah bisa menatapmu dengan kepala tegak
Di saat semua kepedulian telah sirna
Dan di saat aku dengan rasa lapang sudah bisa menertawakan kesedihan dan kekonyolanku karena dirimu
Hey kamu,
Aku akan lebih bahagia darimu
Dan sampai jumpa.....

Senin, 10 Oktober 2016

Kau Adalah Raga Yang Tak Tergenggam. I ndah Parasmu Hanya Bisa Kupandang

Dipertemukan denganmu dan bisa menjadi dekat denganmu, bagiku adalah sesuatu yang tidak bisa aku ingkari nikmatnya. Ada berjuta-juta bahagia yang bisa aku rasakan dalam waktu yang bersamaan dengan hanya melihatmu berada di dekatmu. 
Penyesal itu sesekali datang menyapa, hanya sekedar mengingatkanku bahwa kamu bukanlah sesutu yang bisa aku miliki. Kamu terlalu sempurna untuk ku mahkotai dengan kesederhanaan. Satu-satunya kesempatan yang diberikan padaku hanyalah boleh memandangimu sama seperti kebanyakan orang lainnya. 

Aku Hanya Bisa Melihatmu Dari Kejauhan. Karena Mau Sedekat Apapun Aku Melihat,AkuTidak Pernah Ada Di Matam
 Memandangmu dari kejauhan, menatap dengan pasti ada sebuah senyuman kecil di wajahku, aku tidak tahu mengapa aku tersenyum, tapi ada rasa bahagia dalam hati ini. Melihatmu, mengagumimu, memperhatikan tanpa harus di perhatikan adalah satu-satunya cara yang dapat aku lakukan. Karena mau sedekat apapun aku memandangimu, aku tidak pernah terlihat olehmu. 

Melihatmu Dari Kejauhan Sebenarnya Hanya Ingin Mengurangi Rinduku Perlahan-lahan, Dan Tidak Membiarkan Perasaan Itu Hilang 
 Melihatmu Walau Aku Diabaikan, Memandangmu Walau Aku Diacuhkan Adalah Kesempatan yang Paling Menyakitkan, namun tetap harus aku lakukan secara berulang-ulang hanya demi mengurangi rasa rindu yang terus menuntut untuk dipertemukan. Bukannya selalu begitu kan? Melihatmu dari kejauhan sambil terus mengulang kebisuan tanpa berani mengungkapkan apa-apa.  

Aku Cukup Bahagia Walau Hanya Bisa Memeluk Erat Bayangmu Dalam Angan-anganku Saja
 Lukisan wajahmu selalu ada di hatiku, tawa dan bahagia mu selalu tersimpan rapi di batinku. Aku sudah sangat bahagia dengan imajinasiku yang selalu menuntutku untuk meluangkan waktu sejenak berhayal akan dirimu. Karena hanya dalam hayalan aku bisa menyentuh parasmu dan memegang ragamu yang sangat ingin aku miliki. 

Karena Sekuat Apapun Aku Menggenggammu, Kamu Pasti Akan Berusaha Melepaskannya Sekuat apapun aku mempertahankanmu, seperti apapun aku mengusahakan agar kamu untuk aku raih, semua hanya akan percuma saja. Karena kamu pasti akan menolakku dan akan sebisa mungkin pergi menjauh sejauh mungkin. Sampai-sampai untuk melihat dan mencarimu adalah sebuah kemustahilan yang tidak akan pernah terwujutkan sekalipun aku meminta pada Tuhan.  

Melihatmu Dari Kejauhan Kadang Menyenangkan Dan Kadang Menyedihkan 
Kadang dengan hanya melihatmu dari kejauhan sudah menjadi sesutu yang sangat menyenangkan. Namun dilain kesempatan hal itu hanya membuatku tampak menyedihkan. Bagaimana bisa aku sudah merasa cukup hanya pada sebuah ilusi saja. Bahagia melihatmu dari kejauhan itu hanya sebentar setelah itu akan menjadi semakin merindukanmu lagi melebihi sebelum aku melihatmu.

Sabtu, 08 Oktober 2016

Aku Sudah Hidup Bahagia Tanpamu, Mengapa Kini Tiba-tiba Kau Datang Kembali

patah-hati www.cetmas.com
Aku sudah hidup sangat damai, sejak bagian yang paling tidak mengenakkan itu menyiksa neuron-neuron memoriku, aku sudah bisa bangun, aku sudah melihat hidup dalam sisi lain, sisi yang jauh lebih semarak. Aku sudah bergerak maju. Sangat maju, bahkan jika harus melihatmu bersama dia – Lelaki yang sebelumnya kamu abaikan, namun akhirnya kamu cintai, aku pun sudah siap. 
Tidak ada lagi galau untuk semua itu. Tapi tidak jika dengan tiba-tiba kamu datang lagi tiba-tiba menjadi baik lagi seperti sebelum menghianati ku. Seolah-olah kamu ingin memperbaiki kesalahanmu lalu meminta maaf. Entah ini karena kesalahan apa, Namamu tiba-tiba muncul di barisan daftar orang-orang yang aku panggil “teman” di barisan yang aku pikir begitu privat. Entah, kenapa kemudian nama kamu muncul di sana. Ingatan aku terakhir, dan aku yakin, aku sangat sadar, nama kamu sudah tidak ada di sana. Ya, karena aku sudah menghapusnya atau jika aku boleh meminjam istilah jejaring sosial itu, nama kamu sudah aku “block”

Aku Tidak Membencimu, Hanya Saja Sudah Tidak Ada Hak Bagimu Untuk Peduli Padaku 
Bukan atas nama dendam, hanya saja, aku tidak ingin kamu tahu kabarku. Aku tidak ingin kamu tahu sebahagia apa aku sekarang. Setelah apa yang kamu lakukan, dan setelah semua rasa sakit yang bertubi-tubi, tidak ada hak lagi untukmu memastikan aku bahagia atau tidak. Dan kalaupun ada porsi kamu untuk itu ku ucapkan ‘Terimakasih’ aku tidak butuh. Silahkan ambil dan bawa pulang sendiri. Bukan kamu, bukan kamu yang aku butuhkan.

Bukan Kamu yang Aku Butuhkan Tapi Dia yang Membantuku Mampu Melupakanmu 
Sekarang aku sudah bisa tanpamu dan bahkan aku lebih baik tanpa dirimu, kini yang aku butuhkan tidak lagi kamu tetapi dia. Seseorang yang telah mampu membantu bangkit kembali dari keterpurukan saat ditinggalkan olehmu. Aku sudah bahagia dengannya walau tak bisa memilikinya, aku khawatir hadirmu hanya akan mengurangi rasa bahagiaku sekarang. Aku takut hadirmu kini adalah bencana dalam hidupku.

Kamu Jelas Akan Menang Bila Bersaing Dengannya Untuk Memenangkan Hatiku Kembali  
Kita sudah lama ada dalam satu rasa sudah jelas kamu adalah orang yang paling mengerti diriku, kamu adalah orang yang paling tahu bagaimana diriku. Aku juga masih bisa membayangkan indahnya di bahagia kan oleh dirimu. Segalanya tentang sesuatu yang membuatku tertawa dan nyaman kamu adalah orang yang paling tahu dibanding dengan dia. Jelas dia tidak ada apa-apanya jika dibandingkan denganmu, tidak bisa melakukan apa yang dilakukan olehmu padaku termasuk dalam hal menyakiti diriku. Yang dia tahu hanyalah bagaimana mengobati diriku dari sakitnya dihianati olehmu, yang dia tahu adalah membuatku tidak apa-apa jika aku tanpamu bahkan jika hanya sendiri saja.


Jika Harus Jujur Aku Tidak Mengingkari, Kehadiranmu Kini Masih Tetap Membuat Hatiku Berdebar
 Aku tidak mau berdusta pada perasaan ini, benar kamu masih tetap bisa membuat hatiku berdebar. Hanya saja tidak seperti dulu saat sebelum penghianatan itu terjadi, saat sebelum segala dusta mulai kamu lakukan. Benar kamu memang mendebarkan hatiku tapi itu tak membuatku tergoda untuk kukejar agar hati ini berhenti berdebar. Jika aku bisa jujur mengaku kalau hariku masih berdebar saat kamu hadir kembali bukankah wajar jika aku percaya diri mengatakan dia bisa menggantikanmu. 

Belajarlah Mengakui Kamu Menyesal Telah Melepaskan Sesuatu yang Kamu Anggap Tidak Berharga Dulu
 Karena terlalu banyak membandingkan, kamu sampai-sampai lupa melihat aku, seseorang yang kamu anggap tidak ada apa-apanya, seseorang yang keluargamu anggap tidak setimpal dengan mu. Kini setelah aku dekat orang lain, setelah kamu tahu rasanya dicintai oleh orang lain dengan cara yang tidak seperti kamu bayangkan, tiba-tiba kamu datang kembali pada diriku. Kamu sudah lelah menimbang-nimbang antara perhatianku dan dia bukan? makanya kamu kembali datang seolah-olah ingin memberitahuku jika dulu kamu khilaf.

Aku Tidak Ingin Melukainya Tolong Pergilah, Menjauhlah Sejauh Mungkin Seperti yang Kamu Inginkan Dulu 
Aku takut kemunculanmu itu hanya akan melukainya, aku sangat takut dia cemburu padamu  walau memang saat ini aku belum bisa mendapatkan cintanya, dan aku takut dia berfikir aku masih mengaharapkanmu, miski sebenarnya aku sudah tidak ada apa-apanya lagi dengan dirimu. Bukankah kita sudah berakhir, jika masih ingin berteman mari tetap berteman tanpa harus saling menyapa dan meninggalkan jejak kemuculanmu meski itu hanya tanda like untuk postingaku di sosial media. Aku tidak ingin dia melihatnya mari hanya sama-sama saling mengaggap teman dalam hati saja. Tidakkah itu adil bagimu yang lebih dulu mengingkaari hubungan ini.

jika memang kau mencintaiku seperti apa yang kau ucapkan itu,, tolong bantu aku untuk selalu dekat dengan wanita yg aku idamkan itu,,,dan kamu juga tau pasti siapa orangnya ...!!!

Bagaimana Dengannya, Apakah Dia Lebih Baik Dariku? Apa Dia Menghapus Semua Kenangan Tentangku?


Aku tidak tahu apakah aku masih berhak menanyai kabarmu atau cukup dengan mengucapkan selamat saja padamu. Selamat telah menemukan pengganti diriku.
Selamat telah begitu cepatnya menemukan penggantiku, hingga membuatku sangat penasaran ingin menanyaimu apakah dia yang begitu mudahnya kamu temukan itu mampu menghapuskan semua kengan tentangku? Sesempurna apakah dia sehingga dengan mudahnya ‘memabukkan’ dirimu? 

Kamu Memang Telah Bersama Dengannya Tapi Benarkah Kamu Sudah Bisa Melupakanku? 
Aku tahu betul kamu kini telah bersamanya, tapi benarkan kamu sudah melupakanku?. Sudah tidak lagi mengingatku, atau bersamanya hanyalah sebuah kedok untuk menutupi bahwa sebenarnya kamu sangat merasa kehilangan diriku. 

Apakah Dia Sesabar Diriku Dalam Menyabarimu? Coba Beritahu Aku Adakah Seseorang Selain Aku Yang Bersedia Dihukum Olehmu Agar Menjadi Selalu Bisa Seperti Maunya Kamu 
 Sebenarnya aku sudah tidak ingin lagi mengingat tentangmu dan tak ingin tahu tentangmu. Tapi aku tidak bisa menghentikan rasa ingin tahuku apakah dia yang kini menggantikanku cukup mampu menyabari dirimu, sama seperti yang aku lakukan dulu, saat kamu meminta diriku menjadi seperti maunya kamu. 

Apakah Dia Lebih Baik Dariku, Yang Akan Selalu Mengatakan Tidak Apa-Apa Jika Kamu Tidak Menepati Janjimu? 
Lalu bagaimana dengan maafnya? Apakah dia selalu bersedia memaafkanmu jika kamu tak mampu menepati janji-janjimu. Tidakkah kamu bertanya padanya bagaimana rasanya beratanya memberikan maaf padahal sudah sangat berharap.

Apakah Kehadirannya Mampu Mencuci Bersih Semua Memorimu, Hingga Kenangaku Tersapu Bersih 
Dengan ada dirinya apakah menghapuskan kenganku menjadi mudah? Apakah kini sudah tak adalagi kengan anatara kita. Apakah sesuatu yang berhubungan tentang diriku sudah tergantikan olehnya? 

Apakah Kamu Menemukan Apa Yang Tidak Kamu Temukan Dariku, Atau Kamu Malah Merasa Seperti Orang Bodoh Mencari Padahal Sudah Menemukan? 
Benarkan darinya kamu menemukan sesuatu yang tidak kamu temunkan dari dalam diriku? Benarkah apa yang kamu cari selama ini ada dalam dirinya hingga tega melepaskan aku. Atau mungkinkah kini kmu merasa betapa bodohnya dirimu karena mencari sesuatu yang sebenarnya usdah kamu miliki? 

Lalau Mengapa Kamu Tidak Berani Membanggakan Dirinya Dan Membandingkan Dirinya Di Hadapan Banyak Orang? 
Aku tidak masalah jika kini kamu mendatangiku lalu mengatakan bahwa dia telah menghapuskan kenangnku dari dalam dirimu. Aku tidak masalah jika kmu datang memberitahukanku bahwa semua yang kamu cari selam ini ada pada dirinya.

Senin, 19 September 2016

Sebuah Pesan Rindu Untukmu (26 Oktober 2010)

Cahaya menerobos melewati celah celah dedaunan membuatku memicingkan mata. Silau. Aku ingin lebih lama lagi di sini. Sesekali kuseka rambutku yang dibelai kasar oleh angin. Kubetulkan letak dudukku mencoba fokus mengerjakan laporan yang harusnya sudah selesai dari beberapa hari yang lalu. Aku bosan…
Tidak satu katapun di dalam laporan itu yang aku mengerti. Seolah pekerjaan itu bukan milikku. Aku harus istirahat sebentar. Kugerakkan scroll laptopku naik turun mencari lagu untuk kuputar. Sebuah lagu yang pas untuk menemani suasana sore ini. Padahal aku sudah sengaja jauh-jauh mencari tempat untuk menyepi agar bisa fokus menyelesaikan pekerjaanku yang terbengkalai. Tapi tetap saja sampai di sini, aku masih tidak mendapatkan ide apa-apa.
Tiba-tiba mataku tertuju pada satu foto yang sudah lama sekali. Yang seharusnya sudah lama kulupakan. Ternyata foto ini ada di sini. Mimpiku, mimpi terbesarku. Mimpi yang ada dalam tidur panjangku. Ada rasa rindu menggebu di sudut hati. Rindu ini bukanlah rindu yang datang tiba-tiba. Rindu ini sudah ada di sana sejak lama hanya saja mungkin tidak pernah ada cukup alasan untuk mengenangnya. Seperti biasa, rasa rindu yang pasti diikuti oleh rasa ingin tahu. Hatiku pun bertanya di mana dia? Apa yang sedang dilakukannya? Apa kabarnya kini? Dan…apa dia ingat padaku?
Jemariku mengikuti keserakahan hatiku. Mencoba menulis bait demi bait, seandainya saja. Cuma seandainya, aku memberikan padanya sebuah surat. Sebuah surat di mana aku ingin meluapkan seluruh isi otakku, meringankan beban rindu dihatiku. Seandainya kutulis sebuah surat. Lantas apa yang akan aku tuliskan. Kutarik laptopku dan mulai mengetik.

Dear mimpi, 
Apa kabarmu kini? Tiba-tiba saja aku ingin tau kabarmu. Ini aku. Masih Laki-laki yang sama yang pernah ada dalam ceritamu. Mungkinkah kau masih mengingatku? Ini aku… Masih Laki-laki yang sama yang bibirnya pernah kau hiasi senyum dan tawa. Dan kau… masih menjadi mimpi buatku. Sampai kini.
Hembusan angin seakan melayangkan pikiranku ke masa lalu..
Taukah kau wahai mimpi? Masih segar dalam ingatanku saat pertama aku menemukanmu, mimpiku. Lewat skenario terhebat dan termanis yang disiapkan Tuhan untukku. Pagi itu adalah pagi yang biasa, tempat yang biasa, suasana yang biasa. Dan aku datang dengan cara yang biasa pula, tak ada yang istimewa. Tapi kau di sana, di sebuah konter isi pulsa elektrik. Menatapku tak berkedip sejak aku memasuki ruangan itu. Kau menatapku tak berkedip seakan duniamu terhenti sejak kedatanganku. Kau menatapku lekat, seakan waktumu membeku karenaku.  

Aku tersenyum spontan mengingat saat itu. Seakan adegan masa lalu diputar kembali didepan mataku. Kamu mimpiku, dengan kemeja bermotif kotak, Jilbab putih dan wajah sedikit berantakan. Pandanganku merasa aneh saat pertama kali melihatmu. Otakku berusaha mengenang hingga bagian bagian terkecilnya mengikuti jemariku yang mengabadikannya.
Kau menatapku, hanya menatapku. Tanpa berbicara. Hanya menatap. Itu gila! Respon apa yang harus aku berikan saat ditatap seperti itu? Aku hanya bisa menundukkan wajahku karena malu. Berharap kau berhenti menatapku atau wajahku akan berubah warna saking malunya. 
 "Semoga wajahku tidak memerah. Semoga aku tidak tersipu sipu dan senyum senyum seperti orang bodoh" doaku dalam hati.
Lagi, bibirku tersenyum simpul mengingat wajahmu yang terlihat bodoh saat itu. Atau mungkin aku sendiri menertawakan kebodohanku yang tertunduk dan merasa malu kau pandangi. Aku menghela nafas panjang, mencoba mengingat seperti apa suaramu. Menyusunnya dalam otakku dan memutarnya seolah aku mendengar suaramu ditelingaku. Ah..ya..suaramu. Tawamu, candamu..kulanjutkan tulisanku.
Aku hanya bisa diam dan menunduk merasakan tatapanmu. Ada rasa tersanjung dalam hatiku. Kau membuatku merasa bahwa aku makhluk paling indah di matamu. Aku merasa berharga, merasa bahagia. Kau yang membeku menatapku tanpa berkedip seolah aku adalah  Laki-laki paling berwarna yang kau temui pagi itu.
Jemariku berhenti sejenak. Kubetulkan sikap dudukku sambil menghela nafas panjang membuang pandangan ke batas horizontal biru disana. Pemisah laut dan langit. Mesti sama sama berwarna biru tapi jaraknya begitu jauh. Sangat jauh. Seperti kamu mimpiku. 
Kusesap kopiku yang sudah dingin. Yah..bukan nikmatnya yang kucari, aku hanya butuh teman pengusir kantuk. Sekilas jam tanganku menunjukkan pukul 3 sore. Kuedarkan pandanganku ke sekeliling. Tidak banyak orang di sini. Dunia sudah begitu berubah. Kubiarkan laptopku dalam posisi menyala, kuputuskan untuk berjalan jalan sebentar melemaskan kaki.
Setapak demi setapak aku membuat jejak di sepanjang jalan ini. Berangkat dari sebuah tatapan, ceritaku pun berlanjut.. Kau tidak pernah menanyakan namaku. Kau pun tidak pernah mengenalkan dirimu padaku. Kau hanya memanggil namaku sesukamu, tertawa di sampingku semaumu. Kau memperlakukanku seolah aku adalah bagian dari masa lalu yang sudah sangat kau kenal, seakan aku adalah bagian dari hidupmu. Tanpa canggung
Tapi aku, adalah seorang  Laki-laki yang menjalani hidup yang berbeda denganmu. Aku melewati jalan yang lain dari jalanmu. Dengan latar belakang yang sama sekali berbeda. Menyadari semua itu, langkah kakiku pun terhenti.
Ada perasaan perih dan sedih menggelayuti hatiku, membungkus perasaan rindu yang teramat sangat. Pengakuan hati atas arti seseorang didalamnya.
Namun mimpi, hari hari denganmu hidupku tak lagi menjadi biasa. Karena tiap saat kulihat orang-orang tersenyum maka senyummu pasti ada di antaranya. Saat kudengar mereka tertawa bahagia maka mereka pasti tertawa karnamu. Akupun mulai tergoda.

Suatu hari, kutemukan kau diantara hingar bingar teriakan senang anak-anak kecil. Beberapa di antaranya, bahkan menangis karna kau usili. Aku merasa terpikat. Lalu suatu saat kutemukan diriku tenggelam dalam doa-doa suci yang kau lantunkan. Menghangatkan hati, meneduhkan jiwa. Maka saat itu juga, hatiku mulai jatuh kepadamu.
Mimpi, aku juga ingin tersenyum. Aku ingin tertawa. Merasakan hangat dan perasaan teduh itu sedikit lebih lama. Dan sejak saat itu, aku biarkan kau membuatku tersenyum, dan akupun tertawa di sampingmu. Memandangi wajahmu, menikmati suaramu. Mengikuti arus, melewati waktu, menjalani hari demi hari. Tuhan, aku mulai terbuai. Hari-hariku penuh dengan namamu, penuh dengan kehadiranmu. Senyummu, tawamu, candamu, rajukanmu, amarahmu. Ini menyenangkan, sangat membahagiakan. Seakan aku menemukan sekeping ruh yang terpisah dariku sejak lama. Ah..andai semua ini berlangsung selamanya. 
Alisku mengernyit seolah menolak merasakan sakit yang tiba-tiba muncul dihatiku. Setiap cerita yang berawal indah, tak akan mungkin berlangsung indah selamanya. Seperti malam yang ditemani siang. Seperti itu pula Tuhan menciptakan tangis mendampingi tawa. Aku ingin bercerita padamu, mimpi. Tawaku, tangisku, rinduku. Semuanya.
Namun hari itu, kutemukan kau berjalan di jalanmu. Kau tertawa di duniamu. Kau terlihat begitu berkilau di mataku. Menyaksikan apa yang ada di belakangmu, merasakan semua yang ada di belakangku. Seperti terbangun, tersadar sepenuhnya. Kutarik mundur langkahku, setapak demi setapak..menjauh. Mencoba menjauh. Kakiku..Mulai melewati batasanku. Tak boleh kubiarkan. Kakiku berusaha melangkah, untuk memasuki hidupmu..mimpi. Tak akan kubiarkan. Meskipun aku tau, hatiku telah melewati batasannya sejak lama.
Kupejamkan mataku sejenak mencari jawaban, masihkah perasaan itu di sana. Dan kembali mengetik.
Aku terjaga, tersadar sepenuhnya. Hidup ini tak ada yang berlangsung selamanya. 
Apa yang harus kulakukan kini? Mengikuti keserakahanku melangkah masuk ke hidupmu? Dengan menutup mata, menutup telinga mengacuhkan semuanya. Atau sanggupkah aku meninggalkan semua dan menawarkan persahabatan? Dan saat aku terdiam termangu disini, tiba tiba saja kau pergi…dan menghilang.
Jemariku berhenti, sebulir air menetes di pipiku. Aku, masih bisa merasakan sakitnya. Walau lukanya tak lagi segar. Tapi perasaan sakit itu masih bisa kuingat dengan jelas. Dengan cepat, kuseka pipiku dan kulanjutkan tulisanku.
Taukah kau apa yang aku rasakan saat itu mimpiku? Rindu..begitu merindukanmu. Aku menangisimu hingga aku lelah menangis. Ingin aku berlari menyeret kakiku menemuimu, akan kugunakan alasan apapun itu agar aku bisa melihatmu. Tapi kakiku membeku. Ingin aku berteriak betapa aku merindukanmu, tapi hatiku tak mengizinkan. 
Mengapa? Bukankah sejatinya cinta menyatukan dua hati yang berbeda? Lalu mengapa aku merasa takut melihat perbedaan kita? Bukankah seharusnya cinta memperjuangkan, mempertahankan? Lalu mengapa aku hanya sanggup terdiam dan menarik langkah mundur? Pengecutkah aku? Atau ini semua hanya sebuah bentuk dari pertahanan diri.
Apa yang harus aku lakukan wahai mimpiku? Aku bukan penjaga waktu yang menguasai masa lalu. Aku pun tidak akan sanggup memanggilmu. Aku hanya mampu bertahan dan menjalani hidupku. Membiarkan semuanya berlalu. Berharap waktu yang menyelesaikan semuanya, menghapus semuanya.
Dan saat ini? 
Aku… hanya akan merindukanmu sampai aku merasa bosan.
Aku hanya akan mengingatmu sampai aku lelah.
Akan aku biarkan hatiku… dan bibirku menyebut namamu sesekali sampai aku muak.
Sampai nanti, saat semuanya berlalu. Saat sekali lagi aku menemukan dia yang akan membuatku tertawa. Menemukan dia yang akan mengisi hidupku dan menambah warna dalam hariku. Saat aku bertemu dia yang mengisi hatinya dengan namaku. Maka saat itu, aku akan memperjuangkan semuanya, mempertahankannya. Tak akan aku biarkan perbedaan membuatku takut dan mundur. Dan aku pasti bisa melepasmu. Meletakkanmu dalam bingkai masa lalu. 
Aku bersandar sejenak, untuk sesaat melihat kabut. Menyaksikan bagaimana kabut bergulung dan berakhir menjadi awan. Kuhela nafas panjang, dan menhembuskannya perlahan-lahan. Nanti? Kapan nanti itu? Kapan aku baru bisa berhenti merindukanmu? Ah..tepatnya, kapan aku berhenti menyadari bahwa namamu masih membawa pengaruh besar dalan hatiku. 
Ya..akan aku lakukan. Akan aku perjuangkan, walau aku tidak tau kapan baru bisa melupakanmu, kapan baru mampu mengikhlaskanmu. Tapi saat itu pasti datang. Saat dimana aku mampu tersenyum tanpa mengingatmu, saat dimana aku tertawa tanpa berharap bisa mendengar tawamu. Dan dia , orang yang akan menggenggam tanganku. Aku berjanji tak akan melepaskan tanganya. Tidak lagi. Karna bukankah cinta sejatinya mempersatukan dua hati yang berbeda. Maka akan aku hadapi perbedaan itu. 
Tapi mimpi… seandainya Tuhan menawarkan kepadaku untuk mengulang kembali ke masa lalu. Ke saat dimana pertama kali kita bertemu. Dan Tuhan menawarkan pilihan lain untukku. Tidak akan ada yang berubah untukku. Karna tidak ada satu pertemuan pun yang aku sesali. Maka..jika memang Tuhan menawarkanku untuk kembali, aku akan tetap berjalan memasuki ruangan itu, tempat dimana kau duduk di konter kecil itu dan menghentikan waktumu karnaku. Menatapku.
Ku hela nafas panjang mengakhiri tulisanku. Ku baca sekali lagi..dan aku merasa puas. ini bukan hanya sebuah tulisan untukku. Ini rinduku, kasih sayangku, ini kenanganku, dan ini pesanku. Pesan yang mungkin tak akan pernah tersampaikan. Pesan yang mungkin hanya akan jadi cerita. Pesan yang hanya akan tersimpan dalam otakku. Tapi seandainya bisa..bolehkah pesan ini ditemukan. Bolehkah pesan ini tersampaikan. Sebagai akhir dari sebuah harapan. Bagian penutup dari sebuah cerita. 
Maka dengan mengumpulkan seluruh keberanian. Ku klik "publish" pada blog ku. Setidaknya kalau hanya ini, masih sanggup aku lakukan. Ah…sepertinya aku memang penakut. 
Dua minggu kemudian
Aku masuk ke kamarku dengan menenteng sepiring nasi goreng dan segelas air putih. Ku perhatikan tanda lampu berkedip dari ponselku. Dengan malas kuraih ponselku. Pasti pesan dari kantor. Padahal sudah susah payah laporan kemarin aku selesaikan. Setidaknya, biarkan aku istirahat sebentar. Ku letakkan piringku untuk membuka email masuk.

Ternyata Email itu bukan dari kantor :
Subjek : Lis********@gmail.com
Cc :
"Kak, apa kabar? Ini aku.

Minggu, 18 September 2016

Tak Pernah ku ceritakan pada siapa-siapa

Dan tiba-tiba segalanya terlihat jelas. Kenangan-kenangan itu sekelebat satu per satu muncul memenuhi ruang-ruang memori saat ini. Yang selama ini saya merasa begitu bersalah terhadapmu, merasa saya yang jahat, merasa kamu yang terbaik, merasa paling mengenalmu, merasa kita bakal bisa baik-baik saja karena kita pernah bersama sekejap hancur seketika. Saya sempat berfikir betapa jahatnya saya pada saat itu, betapa kamu begitu peduli saya, betapa saya telah melakukan kesalahan hanya karena masalah kecil.
Ternyata saya salah. Saat itu saya telah mengambil keputusan paling terbaik untuk hidupku, saya telah menyelamatkan diri dari orang yang tidak pernah benar-benar baik dan suci. Tidak, tidak lagi. Saya tidak akan membohongi diri sendiri dengan menganggap mu itu baik. Karena dari dahulu hingga sekarang itulah dirimu. Bahkan baru kali ini saya merasa ada orang yg lebih buruk dari pada diri saya sendiri.
Ya, itulah kamu. Tadinya sempat ingin menjalin silahturahmi kembali tentunya sebagai apa mestinya. Toh masing-masing dari kita sudah memiliki cerita indah bersama sosok lain. Tetapi seketika kau buat runtuh semua dengan keegoisan yang entah apa gunanya, yang akhirnya membuat saya berpikir mungkin selama ini kau begitu karena kau membenciku, sesuatu yg sebelumnya tidak pernah terpikirkan olehku. Sungguh kau sendri yg telah merusakan segala citramu yang telah saya bangun dalam kenangan selama ini. Jika saat ini saya kembali diam bukan karena saya masih terjebak masa lalu.
Saya hanya tidak ingin tersulut kemarahan hanya karena saya sudah tidak lagi mengenalmu, mengenal pola pikirmu. Dan saya juga merasa tidak perlu membangun percakapan dengan dirimu yg ntah tidak bisa saya deskripsikan di sini. Tidak ada lagi kata maaf dan memaafkan. Selama ini jalur yang kita tempuh sudah jelas menuju arah berlawanan. Mudah-mudahan kamu sadar akan itu. Cukup selama ini di depan mereka saya tersenyum saat masa lalu kita diungkit-ungkit lagi, karena ternyata kita tidak pernah baik-baik saja. Hanya saja seegois-egoisnya saya, saya tidak akan pernah menceritakan kepada mereka apa yang telah kamu lakukan. Biar hanya manismu saja yang mereka tahu dan saya, selama saya menggubrismu dan hanya pahitmu saja yang saya rasakan.
Mungkin berbulan-bulan yang lalu manisnya hanya bersifat sementara. Saya tidak pernah menyesali dahulu kita pernah bersama. Jujur iya saya pernah menyesal melepasmu karena pada saat itu saya menyalahkan diri saya atas keputusan yg telah saya ambil. Namun waktu ternyata merupakan obat untuk penyesalan. Dengan jangka waktu yang panjang, akhirmya waktu menyadarkan saya bahwa salah satu keputusan terbaik yang telah saya ambil dalam hidup saya adalah melepasmu.

Selasa, 09 Agustus 2016

Bersabarlah Ibu, Ada Mimpi yang Harus Kulunasi Sebelum Mengikat Janji Sebagai Suami

Sudah tak tahu lagi harus menjawab apa dan bagaimana. Hanya bisa tersenyum getir dan menyimpan semua kekhawatiran dalam dada. Biarlah yang jadi penyebab tetap tinggal disana, karena tak akan ada yang mengerti kenapa aku harus seperti ini. Dari sahabat sampai saudara, bisakah berhenti dimereka saja?
Ibuku yang seharusnya paling mengerti kenapa aku masih memilih sendiri, kuharap tak ikut menyalahkan apa yang sebenarnya kukejar sampai kini. Bukankah ibu selama ini mampu memahamiku? Bahkan selalu menjadi sosok yang mengenalku lebih dari diriku sendiri.
Masih basah kukenang dalam ingatan tentang masa lalu, seberapa remeh mereka memandangku, memandang kita. Jadi ku mohon ibu berhentilah marah pada setiap keputusanku. Mungkin untuk saat ini hanya aku dan Tuhan yang tahu seberapa dalam aku menyayangimu. Berhenti membandingkanku dengan siini dan siitu. Aku akan menikah, tapi nanti, saat apa yang diletakan dipundakku dapat kuselesaikan dengan caraku dan tak menyusahkanmu.
Jangan malu ibu !! aku bukan tak laku, hanya saja anakmu ini masih belum siap membagi hidupnya dengan dia yang belum tentu bersedia jika nanti aku membagi waktu dan cinta denganmu juga. Biarkan tetap seperti ini, sampai bisa kujamin saat nanti dia  lekatkan hidupnya  pada saat aku mendampinginya, ibu tak akan terlantar dan kehilangan sandaran. Sungguh aku mencintaimu meski belum bisa kukabulkan keinginanmu yang satu itu.
Tak ada yang ingin hidup sendiri. Entah seberapa mandiri dan tangguhnya kutaklukan hidup ini, tetap saja ada masa dimana kubutuhkan lengan yang kurasa lebih kuat untukku menyandarkan diri dan merasa dilindungi sampai tua nanti. Maka kumohon padamu ibu, hingga Tuhan menghadirkan sosok itu, bisakah ibu bersabar dan terus disampingku? Menghalau setiap penilaian negatif mereka yang tak tahu apa-apa. Aku membutuhkanmu ibu, untuk terus menjadi alasan atas apa yang kuperjuangkan sampai hari ini.
Ini bukan hanya tentang resepsi. Menikah bukan perkara yang dapat diputuskan sehari dua hari. Bukan juga tentang siapa paling laris dan siapa yang tak dilirik sama sekali. Tapi tentang menemani sosok lain dari diriku sampai mati. Menerima orang baru dan berbagi hidup dengannya serta menerima dengan lapang dada semua tingkah lakunya tanpa terkecuali. Dan dia tak pernah membuatku menyesal telah memilih.
Jangan tanya apa-apa, jangan memikirkan apa-apa. Cukup doakan saja. Aku, suatu hari nanti juga akan ada yang mendampingi. Entah dengan siapa kumohon ibu, doakan saja. Agar ku dapat wanita terbaik dan suci yang juga menyayangimu seperti ibunya sendiri. Sampai waktu itu tiba, kumohon biarkan aku sendiri. Berjuang memantaskan diri demimu ibu dan dia sang jodoh yang diantarkan Tuhan ke hadapanku.

Sabtu, 23 Juli 2016

Surat Untukmu yang Dulu Kucinta, Jangan Usik Kehidupanku Lagi


Ya, dariku yang dahulu begitu sulit melangkahkan kaki dari memori tentangmu. Dirimu yang begitu mudah membuatku bersemangat menjalani hariku yang terasa kian berat. Dirimu yang begitu mudah menghadirkan tawa dalam air mataku yang tertumpah. Begitulah dirimu yang ada dalam benakku dahulu.

Setelah beberapa waktu aku lalui, aku membenahi serpihan hati yang seolah kepingannya semakin sulit kutemukan, aku mulai membangun asa di atas rapuhnya hatiku tanpamu, awalnya memang sulit sekali bagiku melangkah dan berpikir bahwa aku siap menulis kembali kisah baruku tanpa dirimu di dalamnya namun setelah aku menyadari bahwa jika pun kita bersama, itu hanya akan semakin menyakiti hati kita, menyakiti orang-orang yang begitu peduli terhadap kisah kita yang telah terjalin.

Aku sadar, bahwa aku bukanlah orang pertama yang menyadari hal itu, namun aku mengerti bahwa besarnya cintaku bukanlah untukmu, aku harus memberikan kesempatan bagi dia yang akan melengkapi hidupku, bagi dia yang akan melangkah bersamaku, mengisi ruang kosong, mengobati luka, dan bahkan membuat hariku kian cerah terlepas dari hari berawan dahulu.
Kini, aku telah siap, aku siap membuka hati yang sempat tertutup sangat rapat. Aku siap menjalani kisah baru yang dirancang Sang Pencipta untukku, aku akan melangkah dengan keyakinan bahwa senyum yang terkembang adalah untuk orang-orang yang menyayangiku.


Bersama surat ini aku ingin berterimakasih padamu, ya padamu.
Karenamu aku belajar bagaimana rasanya melangkah dalam pecahan kenangan indah dan bangkit sebagai pribadi yang lebih kuat. Aku yang sekarang sudah siap menulis kisah bahagiaku kembali, mungkin kisahnya bukan lagi tentang dirimu namun aku yakin kisah baruku akan menjadi kisah indah di mana aku dapat merasakan kembali getaran cinta dengan orang yang berbeda, di mana setiap pertemuan akan menjadi kenangan juga.
Kenangan baru dengan tempat berbeda. Berbeda dengan dirimu, aku melangkah dari titik terendah di mana aku merasakan pahit dan sulitnya bertahan dari rasa sakit. Namun, tahukah kau aku sangat bersyukur menyadari bahwa akulah yang dapat tegar dan melangkah keluar dari titik itu dan kisahku nanti akan menjadi kisah yang lebih kuat dari sebelumnya karena aku belajar untuk tidak mengulangi kesalahanku terdahulu.
“Impian harus menyala dengan apa pun yang kita miliki,
meskipun yang kita miliki tidak sempurna, meskipun itu retak-retak”
 
Kini aku disibukkan menata hatiku dan pribadiku untuk dia, dia yang akan mempertahankan aku dan sebaliknya. Aku tidak butuh bantuanmu untuk membuatku bersemangat, tidak juga setiap pesanmu yang menandakan kekhawatiran dirimu terhadapku. Jika dirimu melakukan itu hanya karena perasaan bersalah karena meninggalkanku atau bahkan kesepian karena dia tak sehangat diriku dahulu itulah yang harus kamu jalani. Aku akan melangkah dalam pilihan baru yang kubuat, begitupun dirimu yang sudah memulainya terlebih dahulu.
Berbahagialah dengan pilihanmu, karena aku pun telah bahagia dengan hidupku sekarang.
“Rasa cinta itu kadang semakin jernih ketika kita harus terpisah. Rasa cinta itu bisa tumbuh subur di tempat yang asing dan jauh. Rasa cinta itu tumbuh lewat jalan yang berliku, lewat kegelapan dan air mata. Rasa cinta yang seperti itu sejatinya akan menjadikan kita kuat.”
 

Minggu, 17 Juli 2016

Tentang Kamu yang Tak Bisa Dilupakan Ibuku


Dulu, kamu sering datang ke sini seminggu beberapa kali. Bukan cuma bertemu denganku, tapi juga ibu dan ayahku. Kamu menganggap mereka sebagai sosok yang berharga, saking ramah dan sayangnya terhadapmu. Tak pernah sekalipun mereka kesal, bahkan ketika kamu datang di sela-sela waktu kami makan siang atau menoton televisi, kami tetap menyambutmu dengan hangat.

“Kini berbeda masanya, di mana kita bukan lagi sebagai pasangan, melainkan sebatas teman. Tak masalah bagiku, pun bagimu. Tapi, ibuku yang dulu selalu menyambutmu dengan riang mulai bertanya-tanya, bagaimana kabarmu saat ini? Apa kamu baik-baik saja?”







Beberapa kali, Ibu menanyakan keberadaanmu yang sekarang. Mungkin dia berpikir, bahwa kita masih saling sayang

Aku memang belum sepenuhnya bercerita pada ibu, tentang hubungan kita yang kini sudah berakhir. Kita memang teman, tapi sangat jarang bertukar kabar. Mungkin kamu juga merasa hal yang sama denganku, yaitu rindu. Namun kamu terlalu sibuk dengan kehidupan yang baru dan tak ada waktu untuk memikirkan masa lalu.
Kamu tak perlu kuatir, ibu bertanya kabarmu bukan berarti memaksa untuk datang ke rumah lagi. Dia hanya menggenapi perannya sebagai orang tua yang wajib mencurahkan kasih sayang dan rasa peduli. Sesekali, bolehkah aku mengirimkan pesan untukmu, agar bisa ku sampaikan kabar baik bahwa kamu masih sama seperti yang dulu kepada ibu?

Bukan cuma ibu… Ayah yang dulu sering kau seduhkan kopi  dengan tangan mu juga bertanya, kapan kamu akan datang lagi?

Sama seperti ibu, ayahku yang jarang di rumah pun sering menanyakan kabarmu yang sekarang. Beliau tak hanya bertanya sekali, tapi berkali-kali ketika kita berkesempatan ngobrol dan meneguk secangkir kopi. Aku tidak bisa menjawab banyak, meski aku tahu kamu ingin kita tetap terlihat baik-baik saja di depan ayah.
Tahukah kamu, mungkin di belakangku mereka berdua sering membicarakan perihal status kita berdua yang dulunya serius tapi kini agak sedikit berbeda. Bukannya berlebihan, orang tuaku hanya ingin memastikan bahwa kamu benar-benar menjagaku dengan baik dan takkan ada perselisihan berarti yang berujung luka. Ya, cuma itu saja.

Dibalik senyum ibu yang seperti biasa, tiba-tiba dia menegurku dengan nada kecewa. Kenapa kamu tak pernah membalas pesan singkatnya?

“Aku, ayah dan ibu memang satu paket lengkap yang tidak bisa secepat itu melupakan kebaikan seseorang. Kami tidak tahu harus bagaimana, selain membalas kebajikan itu dengan setimpal, yakni senantiasa peduli.”
Kamu jangan menganggap ibu sebagai orang tua yang cerewet atau banyak maunya. Beliau tidak begitu, apalagi denganmu, perempuan cantik yang sudah dianggap seperti anaknya sendiri. Mengobati rasa rindu terhadapmu mungkin sangat sulit baginya, sehingga mengirim pesan singkat kepadamu menjadi salah satu cara untuk sedikit menawarnya. Lalu, apa salahnya untuk membalas pesannya walau hanya sekali?

Ibu mungkin sangat menantikan kehadiranmu. Dia juga rindu ketika kamu datang dan melahap habis semua kue buatannya, seperti dulu

“Dulu waktu pacarmu sering datang ke sini, kue bikinan Ibu selalu habis. Dia lahap, Ah, Ibu kangen dia.”Ibu.

Ingatkah kamu, ketika ibu menyuguhimu dengan sepiring kue kering beraneka rupa dan rasa? Ibu pun tak pernah lupa untuk memperbanyak rasa coklat favoritmu dan hanya sedikit rasa jeruk, favoritku. Dia begitu bahagia ketika kue buatannya habis karena kamu habiskan, begitu juga aku.

Akhirnya ibu benar-benar serius mengajakku bicara. Dia kembali bertanya dan berharap kita baik-baik saja. Menurutmu, aku harus menjawab apa?

Tidak terasa, kini sudah hampir 4 tahun kamu absen berkunjung dan kita sangat jarang bertemu. Pertanyaan ibu dan ayah tentangmu kini juga semakin berkurang. Mereka mungkin sudah menyadari sendiri, bahwa kita tidak dalam keadaan baik-baik saja, malah sebaliknya. Dulu mungkin kita punya komitmen teguh untuk membawa hubungan ini ke jenjang yang lebih tinggi, tapi mau bagaimana lagi ketika yang berbicara adalah hati.
Kini ibu sudah tahu dan maklum, hubungan kita memang tak bisa dilanjutkan lagi. Ibu juga percaya bahwa keputusan yang kita ambil adalah yang terbaik dan paling tepat untuk kelangsungan hidup kita, dua orang yang belum ditakdirkan untuk berjodoh.
Ibu titip pesan, jaga diri baik-baik di sana. Tak ada kata benci dalam kamusnya, meski sedikit kecewa karena tahu bahwa hubungan kita cukup sampai di sini saja.

Micha

Jumat, 15 Juli 2016

Tugasku Untuk Mencintaimu Sudah Selesai

Tentang hidup. Ya hidup. Memang benar hidup adalah pilihan. Kita sendirilah yang menentukan jalan mana yang akan kita jalani. Namun ketika hidupmu dihadapkan pada banyak pilihan, bukan berarti kau bisa mengambil sikap seenaknya, bukan berarti kau bisa bebas mengambil jalan yang ingin kau lalui tanpa memikirkan yang lain.  Bukankah kau pernah berpikir bahwa kau tak ingin dijadikan pilihan?

Lantas apa kau pikir, aku dia dan mereka pun mau dijadikan pilihan? Kau bisa semudah itu bilang percayalah tapi tahukah kau? Bagi beberapa orang, termasuk aku, percaya bukanlah hal yang begitu mudah untuk dilakukan. Ada banyak hal yang terjadi dalam hidupku yang membuatku begitu rentan atas sebuah rasa percaya. Dan ketika aku memutuskan untuk percaya padamu, saat itu juga aku sedang berjuang keras untuk mengalahkan rasa takutku.

Aku, yang pernah merasakan rasa pahitnya sebuah kehilangan, yang pernah merasakan pedihnya kepercayaan yang tak lagi dihargai. Apa kau tahu bagaimana rasanya? Ketika kau percaya dan kepercayaanmu terkhianati begitu saja? Aku tahu. Aku paham. Sungguh, aku tak pernah ingin lagi percaya. Aku tak pernah menyayangkan bila hidupku berjalan tak sesuai keinginanku, aku hanya menyayangkan jika di saat kau bisa membuat pilihan, kau justru tak bisa memilih dengan pertimbangan hati dan logika. Dan ketika kau dihadapkan pada pilihan yang kau anggap sulit, sudahkah kau mengadu pada Sang Pemilik Kehidupan?  Menepilah sejenak dari hiruk pikuk kehidupan dan mendekatlah pada Sang Pencipta. bersujud dan berdoa, meminta petunjuk yang terbaik dariNya. Allah S.W.T. Tak akan pernah menjerumuskan umatNya, Dia akan selalu memberi petunjuk bahkan lewat hal-hal yang terlihat mustahil bagi kita. 

N A M U N ! ! ! 

Tugasku mencintaimu dengan sebaik-baiknya sudah selesai, sekarang tugasku adalah melupakanmu dengan sekuat-kuatnya. Aku terima itu, karena kelak kamu akan sadar bahwa takkan ada yang mampu mencintaimu sebaik apa yang pernah aku lakukan untukmu, tak ada satupun. Bahkan masa lalumu yang mungkin bisa terima kau seperti aku.

Tugasku mencintaimu dengan sebaik-baiknya sudah selesai, sekarang tugasku adalah melupakanmu dengan sekuat-kuatnya. 

Terima kasih, berkatmu, aku seperti kehilangan selera untuk mencintai siapa-siapa, entah karena aku berada di titik kelelahanku memperjuangkan suatu hal yang tak mau diperjuangkan, dan mengikhlaskan sesuatu hal yang memang harus kulepaskan.

Terima kasih Tuhan, akhirnya kau tunjukan padaku bahwa dia memang pantas diletakkan di masa lalu, bahwa dia memang tak pantas lagi untuk mendapatkan cintaku. Jangan pernah datang hanya untuk kembali sayang, aku berjuang sehebat ini bukan untuk kau jatuhkan lagi, jaga apa yang kamu punya sekarang, jangan lepaskan lagi cintanya untuk siapapun, jangan kau palingkan cintanya seperti halnya kau palingkan cintaku.

Karena sesuatu yang telah pergi, meskipun kembali, ia takkan sama lagi. Aku beserta doa dan harapan yang tiada henti selalu mendoakan kebahagiaanmu, maaf jika aku ternyata telah memisahkan cinta kalian, maaf jika aku pernah membuatmu begitu jauh darinya, darimu aku belajar banyak hal, aku belajar menghargai apa yang aku punya sebelum kehilangan.

Ingatlah kelak ketika kamu sudah bahagia nanti, aku pernah memegang erat tanganmu, dengan segala debat yang hebat untuk menolak sebuah kepergian.

Aku pamit dari hidupmu, maaf aku tak bisa lagi menjagamu, karena Tuhan memberikanku waktu yang terlalu singkat untuk mencintaimu, sehingga aku belum bisa membahagiakanmu, aku titipkan kisah kita ya, aku titip hal bodoh yang selalu kita lakukan bersama, mungkin di mata orang itu bodoh, tapi buat kita itu adalah kebahagiaan. 

Kuyakin kuasa Tuhan adalah jalan pertama, semoga suatu saat nanti kita akan bertemu dengan status yang berbeda entah kita akan satu atap atau berbeda atap,  semua adalah jalan Tuhan. Berdoalah sebaik mungkin semoga Tuhan selalu melindungi kita.

Kamis, 14 Juli 2016

Ketika Aku Terjebak dalam Persimpangan Penuh Kebigungan




            Berbicara soal cinta, mungkin setiap orang mendeskripsikannya dengan cara yang berbeda. Terlalu banyak yang menjelaskan kata ini dengan kalimat yang tidak semua sama. Cinta adalah saat di mana hati mulai mencecap rasa. Setidaknya itu menurutku.
Banyak orang dengan gamblang mengutarakan cinta. Tapi sulit sekali memberikan makna. Berbeda sekali denganku. Sulit bagiku untuk mengucap satu kata itu dengan lantang. Bukan tidak bisa, tapi apalah arti dari sebuah kata kalau hanya diucapkan dengan nada sumbang tak berima. Omong kosong. Hanya kata yang terucap lalu bisa saja disamarkan dengan datangnya angin, lalu dibawanya hingga lenyap. Tidak ada yang tersisa dan terendap.
Itukah yang diinginkan? Bukankah sejatinya cinta datang dari rasa yang perlahan mulai mendetakan hati? Aku tidak akan membicarakan cinta sedini ini. Setidaknya sebelum aku bisa mengucap cinta kepada dia yang mendetakan hati.
Aku harus belajar terlebih dahulu. Belajar untuk mengenali detak ini karena apa. Mencoba mengerti memahami setiap rasa yang tergambar dan memaklumi apa yang sudah tersirat. Barulah aku berani dengan tegas menyebutnya sebagai cinta. Sebelum sampai di situ, mungkin saja ini hanya sebagian dari rasa kagumku terhadapmu. Yang bisa saja menguap atau bahkan mengabur hilang tak berbekas.
Teruntuk kamu, sebuah nama yang seringkali muncul dalam doaku. Maafkan jika saja aku dengan lancang diam-diam mengagumimu. Berbisik kepada Sang pemberi cinta, ini sebenarnya perasaan yang seperti apa. Aku tidak berani bilang ini cinta. Bukan ingin menjadi pengecut yang hanya bisa bersembunyi dari kata “teman”. Tapi aku sendiripun sebenarnya gamang.
Jangan khawatir aku tidak akan mengganggu atau mengusik mu. Saat ini, aku hanya perlu belajar atasnya. Meyakinkan diri sendiri dari persimpangan keambiguan. Selagi aku belajar untuk itu. Aku berusaha untuk memantaskan diriku. Sebelum akhirnya setiap rasa bermuara jua. Memperbaiki diri agar kelak jika sudah waktunya tiba, aku tidak lagi bersanding dengan kata pesimis yang menjadi keraguan. Yaa, aku sedang dalam upaya pemantasan dan perbaikan diri.
Bukan ingin terlihat sempurna di hadapanmu nanti, karna memang tidak ada yang sempurna di dunia ini. Aku pun menyukai mu bukan karna kesempurnaanmu, justru karna apa adanya dirimu yang membuat ku ingin tau banyak hal tentang mu. Tapi setiap upaya perbaikan ini, agar kamu atau nama yang digariskan untukku nanti akan mengerti. Setidaknya kamu atau yang lainnya dapat menilai dari upaya yang sedang aku lakukan. Bukan sekedar menelisik masa laluku.

Setiap orang memiliki masa lalu, entah itu baik atau buruk sekalipun. Bukan ingin mengenyahkan cerita di masa lalu. Tapi bukankah hidup kita berjalan ke depan? Masa lalu kunci dari upaya perbaikan di kemudian.
Sebaik atau seburuk apapun itu, masa lalu tetap ada di balik punggungku. Dan aku melangkah untuk ke depan bukan berbalik ke belakang. Harapku untuk siapapun yang ada dan akan menemani langkahku nanti. Entah itu kamu atau yang lain, semoga akan berbaik hati menerima apapun yang sudah terekam dibelakangku. Mungkin saja aku pernah menjadi pribadi yang buruk. Tapi percayalah saat ini aku sedang dalam upaya perbaikan. Berdamai dengan diri sendiri atas apa yang sudah terjadi agar dendam dan sakit tak terlanjur mengakar.
Terkadang sering kali bertanya dalam diri, menebak-nebak dan mencoba mencari celah yang bisa saja tersirat, saat kita sedang bersama. Adakah bagimu perasaan berbeda ketika percakapan antara kita mulai bermula? Kalau saja boleh menawar soal rasa. Mungkin aku akan coba untuk tidak memiliki ini, dan memilih untuk berdetak atas nama yang lain. Tapi kepada siapa harus bernegosiasi? Perkara rasa itu soal hati yang menguasai, kadang akal pun sering kali terasa tumpul karenanya.