
Cahaya menerobos melewati celah celah dedaunan membuatku memicingkan
mata. Silau. Aku ingin lebih
lama lagi di sini. Sesekali kuseka rambutku yang dibelai kasar oleh
angin. Kubetulkan letak dudukku mencoba fokus mengerjakan laporan yang
harusnya sudah selesai dari beberapa hari yang lalu. Aku bosan…
Tidak
satu katapun di dalam laporan itu yang aku mengerti. Seolah pekerjaan
itu bukan milikku. Aku harus istirahat sebentar. Kugerakkan scroll
laptopku naik turun mencari lagu untuk kuputar. Sebuah lagu yang pas
untuk menemani suasana sore ini. Padahal aku sudah sengaja
jauh-jauh mencari tempat untuk menyepi agar bisa fokus menyelesaikan
pekerjaanku yang terbengkalai. Tapi tetap saja sampai di sini, aku masih
tidak mendapatkan ide apa-apa.
Tiba-tiba
mataku tertuju pada satu foto yang sudah lama sekali. Yang seharusnya
sudah lama kulupakan. Ternyata foto ini ada di sini. Mimpiku, mimpi
terbesarku. Mimpi yang ada dalam tidur panjangku. Ada rasa rindu
menggebu di sudut hati. Rindu ini bukanlah rindu yang datang tiba-tiba.
Rindu ini sudah ada di sana sejak lama hanya saja mungkin tidak pernah
ada cukup alasan untuk mengenangnya. Seperti biasa, rasa rindu yang
pasti diikuti oleh rasa ingin tahu. Hatiku pun bertanya di mana dia? Apa
yang sedang dilakukannya? Apa kabarnya kini? Dan…apa dia ingat padaku?
Jemariku
mengikuti keserakahan hatiku. Mencoba menulis bait demi bait,
seandainya saja. Cuma seandainya, aku memberikan padanya sebuah surat.
Sebuah surat di mana aku ingin meluapkan seluruh isi otakku, meringankan
beban rindu dihatiku. Seandainya kutulis sebuah surat. Lantas apa yang
akan aku tuliskan. Kutarik laptopku dan mulai mengetik.
Dear mimpi,
Apa
kabarmu kini? Tiba-tiba saja aku ingin tau kabarmu. Ini aku. Masih Laki-laki yang sama yang pernah ada dalam ceritamu. Mungkinkah kau masih
mengingatku? Ini aku… Masih Laki-laki yang sama yang bibirnya pernah
kau hiasi senyum dan tawa. Dan kau… masih menjadi mimpi buatku. Sampai
kini.
Hembusan angin seakan melayangkan pikiranku ke masa lalu..
Taukah
kau wahai mimpi? Masih segar dalam ingatanku saat pertama aku
menemukanmu, mimpiku. Lewat skenario terhebat dan termanis yang
disiapkan Tuhan untukku. Pagi itu adalah pagi yang biasa, tempat yang
biasa, suasana yang biasa. Dan aku datang dengan cara yang biasa pula,
tak ada yang istimewa. Tapi kau di sana, di sebuah konter isi pulsa elektrik. Menatapku
tak berkedip sejak aku memasuki ruangan itu. Kau menatapku tak berkedip
seakan duniamu terhenti sejak kedatanganku. Kau menatapku lekat, seakan
waktumu membeku karenaku.
Aku
tersenyum spontan mengingat saat itu. Seakan adegan masa lalu diputar
kembali didepan mataku. Kamu mimpiku, dengan kemeja bermotif kotak, Jilbab
putih dan wajah sedikit berantakan. Pandanganku merasa aneh saat pertama
kali melihatmu. Otakku berusaha mengenang hingga bagian bagian
terkecilnya mengikuti jemariku yang mengabadikannya.
Kau
menatapku, hanya menatapku. Tanpa berbicara. Hanya menatap. Itu gila!
Respon apa yang harus aku berikan saat ditatap seperti itu? Aku hanya
bisa menundukkan wajahku karena malu. Berharap kau berhenti menatapku
atau wajahku akan berubah warna saking malunya.
"Semoga wajahku tidak memerah. Semoga aku tidak tersipu sipu dan senyum senyum seperti orang bodoh" doaku dalam hati.
Lagi,
bibirku tersenyum simpul mengingat wajahmu yang terlihat bodoh saat
itu. Atau mungkin aku sendiri menertawakan kebodohanku yang tertunduk
dan merasa malu kau pandangi. Aku menghela nafas panjang, mencoba
mengingat seperti apa suaramu. Menyusunnya dalam otakku dan memutarnya
seolah aku mendengar suaramu ditelingaku. Ah..ya..suaramu. Tawamu,
candamu..kulanjutkan tulisanku.
Aku hanya bisa diam dan menunduk
merasakan tatapanmu. Ada rasa tersanjung dalam hatiku. Kau membuatku
merasa bahwa aku makhluk paling indah di matamu. Aku merasa berharga,
merasa bahagia. Kau yang membeku menatapku tanpa berkedip seolah aku
adalah Laki-laki paling berwarna yang kau temui pagi itu.
Jemariku
berhenti sejenak. Kubetulkan sikap dudukku sambil menghela nafas
panjang membuang pandangan ke batas horizontal biru disana. Pemisah laut
dan langit. Mesti sama sama berwarna biru tapi jaraknya begitu jauh.
Sangat jauh. Seperti kamu mimpiku.
Kusesap kopiku yang sudah
dingin. Yah..bukan nikmatnya yang kucari, aku hanya butuh teman pengusir
kantuk. Sekilas jam tanganku menunjukkan pukul 3 sore. Kuedarkan
pandanganku ke sekeliling. Tidak banyak orang di sini. Dunia
sudah begitu berubah. Kubiarkan laptopku dalam posisi menyala,
kuputuskan untuk berjalan jalan sebentar melemaskan kaki.
Setapak
demi setapak aku membuat jejak di sepanjang jalan ini. Berangkat dari sebuah tatapan, ceritaku pun berlanjut.. Kau
tidak pernah menanyakan namaku. Kau pun tidak pernah mengenalkan dirimu
padaku. Kau hanya memanggil namaku sesukamu, tertawa di sampingku
semaumu. Kau memperlakukanku seolah aku adalah bagian dari masa lalu
yang sudah sangat kau kenal, seakan aku adalah bagian dari hidupmu.
Tanpa canggung
Tapi aku, adalah seorang Laki-laki yang menjalani
hidup yang berbeda denganmu. Aku melewati jalan yang lain dari jalanmu.
Dengan latar belakang yang sama sekali berbeda. Menyadari semua itu,
langkah kakiku pun terhenti.
Ada perasaan perih dan sedih
menggelayuti hatiku, membungkus perasaan rindu yang teramat sangat.
Pengakuan hati atas arti seseorang didalamnya.
Namun mimpi, hari
hari denganmu hidupku tak lagi menjadi biasa. Karena tiap saat kulihat
orang-orang tersenyum maka senyummu pasti ada di antaranya. Saat
kudengar mereka tertawa bahagia maka mereka pasti tertawa karnamu.
Akupun mulai tergoda.
Suatu
hari, kutemukan kau diantara hingar bingar teriakan senang anak-anak
kecil. Beberapa di antaranya, bahkan menangis karna kau usili. Aku
merasa terpikat. Lalu suatu saat kutemukan diriku tenggelam dalam
doa-doa suci yang kau lantunkan. Menghangatkan hati, meneduhkan jiwa.
Maka saat itu juga, hatiku mulai jatuh kepadamu.
Mimpi, aku juga
ingin tersenyum. Aku ingin tertawa. Merasakan hangat dan perasaan teduh
itu sedikit lebih lama. Dan sejak saat itu, aku biarkan kau membuatku
tersenyum, dan akupun tertawa di sampingmu. Memandangi wajahmu,
menikmati suaramu. Mengikuti arus, melewati waktu, menjalani hari demi
hari. Tuhan, aku mulai terbuai. Hari-hariku penuh dengan namamu, penuh
dengan kehadiranmu. Senyummu, tawamu, candamu, rajukanmu, amarahmu. Ini
menyenangkan, sangat membahagiakan. Seakan aku menemukan sekeping ruh
yang terpisah dariku sejak lama. Ah..andai semua ini berlangsung
selamanya.
Alisku mengernyit seolah menolak merasakan sakit yang
tiba-tiba muncul dihatiku. Setiap cerita yang berawal indah, tak akan
mungkin berlangsung indah selamanya. Seperti malam yang ditemani siang.
Seperti itu pula Tuhan menciptakan tangis mendampingi tawa. Aku ingin
bercerita padamu, mimpi. Tawaku, tangisku, rinduku. Semuanya.
Namun
hari itu, kutemukan kau berjalan di jalanmu. Kau tertawa di duniamu.
Kau terlihat begitu berkilau di mataku. Menyaksikan apa yang ada di
belakangmu, merasakan semua yang ada di belakangku. Seperti terbangun,
tersadar sepenuhnya. Kutarik mundur langkahku, setapak demi
setapak..menjauh. Mencoba menjauh. Kakiku..Mulai melewati batasanku. Tak
boleh kubiarkan. Kakiku berusaha melangkah, untuk memasuki
hidupmu..mimpi. Tak akan kubiarkan. Meskipun aku tau, hatiku telah
melewati batasannya sejak lama.
Kupejamkan mataku sejenak mencari jawaban, masihkah perasaan itu di sana. Dan kembali mengetik.
Aku terjaga, tersadar sepenuhnya. Hidup ini tak ada yang berlangsung selamanya.
Apa
yang harus kulakukan kini? Mengikuti keserakahanku melangkah masuk ke
hidupmu? Dengan menutup mata, menutup telinga mengacuhkan semuanya. Atau
sanggupkah aku meninggalkan semua dan menawarkan persahabatan? Dan saat
aku terdiam termangu disini, tiba tiba saja kau pergi…dan menghilang.
Jemariku
berhenti, sebulir air menetes di pipiku. Aku, masih bisa merasakan
sakitnya. Walau lukanya tak lagi segar. Tapi perasaan sakit itu masih
bisa kuingat dengan jelas. Dengan cepat, kuseka pipiku dan kulanjutkan
tulisanku.
Taukah kau apa yang aku rasakan saat itu mimpiku?
Rindu..begitu merindukanmu. Aku menangisimu hingga aku lelah menangis.
Ingin aku berlari menyeret kakiku menemuimu, akan kugunakan alasan
apapun itu agar aku bisa melihatmu. Tapi kakiku membeku. Ingin aku
berteriak betapa aku merindukanmu, tapi hatiku tak mengizinkan.
Mengapa?
Bukankah sejatinya cinta menyatukan dua hati yang berbeda? Lalu mengapa
aku merasa takut melihat perbedaan kita? Bukankah seharusnya cinta
memperjuangkan, mempertahankan? Lalu mengapa aku hanya sanggup terdiam
dan menarik langkah mundur? Pengecutkah aku? Atau ini semua hanya sebuah
bentuk dari pertahanan diri.
Apa yang harus aku lakukan wahai
mimpiku? Aku bukan penjaga waktu yang menguasai masa lalu. Aku pun tidak
akan sanggup memanggilmu. Aku hanya mampu bertahan dan menjalani
hidupku. Membiarkan semuanya berlalu. Berharap waktu yang menyelesaikan
semuanya, menghapus semuanya.
Dan saat ini?
Aku… hanya akan merindukanmu sampai aku merasa bosan.
Aku hanya akan mengingatmu sampai aku lelah.
Akan aku biarkan hatiku… dan bibirku menyebut namamu sesekali sampai aku muak.
Sampai
nanti, saat semuanya berlalu. Saat sekali lagi aku menemukan dia yang
akan membuatku tertawa. Menemukan dia yang akan mengisi hidupku dan
menambah warna dalam hariku. Saat aku bertemu dia yang mengisi hatinya
dengan namaku. Maka saat itu, aku akan memperjuangkan semuanya,
mempertahankannya. Tak akan aku biarkan perbedaan membuatku takut dan
mundur. Dan aku pasti bisa melepasmu. Meletakkanmu dalam bingkai masa
lalu.
Aku bersandar sejenak, untuk sesaat melihat kabut.
Menyaksikan bagaimana kabut bergulung dan berakhir menjadi awan. Kuhela nafas panjang, dan menhembuskannya perlahan-lahan. Nanti?
Kapan nanti itu? Kapan aku baru bisa berhenti merindukanmu?
Ah..tepatnya, kapan aku berhenti menyadari bahwa namamu masih membawa
pengaruh besar dalan hatiku.
Ya..akan aku lakukan. Akan aku
perjuangkan, walau aku tidak tau kapan baru bisa melupakanmu, kapan baru
mampu mengikhlaskanmu. Tapi saat itu pasti datang. Saat dimana aku
mampu tersenyum tanpa mengingatmu, saat dimana aku tertawa tanpa
berharap bisa mendengar tawamu. Dan dia , orang yang akan menggenggam
tanganku. Aku berjanji tak akan melepaskan tanganya. Tidak lagi. Karna
bukankah cinta sejatinya mempersatukan dua hati yang berbeda. Maka akan
aku hadapi perbedaan itu.
Tapi mimpi… seandainya Tuhan menawarkan
kepadaku untuk mengulang kembali ke masa lalu. Ke saat dimana pertama
kali kita bertemu. Dan Tuhan menawarkan pilihan lain untukku. Tidak akan
ada yang berubah untukku. Karna tidak ada satu pertemuan pun yang aku
sesali. Maka..jika memang Tuhan menawarkanku untuk kembali, aku akan
tetap berjalan memasuki ruangan itu, tempat dimana kau duduk di konter kecil itu dan menghentikan waktumu karnaku. Menatapku.
Ku hela nafas
panjang mengakhiri tulisanku. Ku baca sekali lagi..dan aku merasa puas.
ini bukan hanya sebuah tulisan untukku. Ini rinduku, kasih sayangku,
ini kenanganku, dan ini pesanku. Pesan yang mungkin tak akan pernah
tersampaikan. Pesan yang mungkin hanya akan jadi cerita. Pesan yang
hanya akan tersimpan dalam otakku. Tapi seandainya bisa..bolehkah pesan
ini ditemukan. Bolehkah pesan ini tersampaikan. Sebagai akhir dari
sebuah harapan. Bagian penutup dari sebuah cerita.
Maka dengan
mengumpulkan seluruh keberanian. Ku klik "publish" pada blog ku.
Setidaknya kalau hanya ini, masih sanggup aku lakukan. Ah…sepertinya aku
memang penakut.
Dua minggu kemudian
Aku masuk ke kamarku
dengan menenteng sepiring nasi goreng dan segelas air putih. Ku
perhatikan tanda lampu berkedip dari ponselku. Dengan malas kuraih
ponselku. Pasti pesan dari kantor. Padahal sudah susah payah laporan
kemarin aku selesaikan. Setidaknya, biarkan aku istirahat sebentar. Ku
letakkan piringku untuk membuka email masuk.
Ternyata Email itu bukan dari kantor :
Subjek : Lis********@gmail.com
Cc :
"Kak, apa kabar? Ini aku.