My name

My name

Sabtu, 08 Oktober 2016

Aku Sudah Hidup Bahagia Tanpamu, Mengapa Kini Tiba-tiba Kau Datang Kembali

patah-hati www.cetmas.com
Aku sudah hidup sangat damai, sejak bagian yang paling tidak mengenakkan itu menyiksa neuron-neuron memoriku, aku sudah bisa bangun, aku sudah melihat hidup dalam sisi lain, sisi yang jauh lebih semarak. Aku sudah bergerak maju. Sangat maju, bahkan jika harus melihatmu bersama dia – Lelaki yang sebelumnya kamu abaikan, namun akhirnya kamu cintai, aku pun sudah siap. 
Tidak ada lagi galau untuk semua itu. Tapi tidak jika dengan tiba-tiba kamu datang lagi tiba-tiba menjadi baik lagi seperti sebelum menghianati ku. Seolah-olah kamu ingin memperbaiki kesalahanmu lalu meminta maaf. Entah ini karena kesalahan apa, Namamu tiba-tiba muncul di barisan daftar orang-orang yang aku panggil “teman” di barisan yang aku pikir begitu privat. Entah, kenapa kemudian nama kamu muncul di sana. Ingatan aku terakhir, dan aku yakin, aku sangat sadar, nama kamu sudah tidak ada di sana. Ya, karena aku sudah menghapusnya atau jika aku boleh meminjam istilah jejaring sosial itu, nama kamu sudah aku “block”

Aku Tidak Membencimu, Hanya Saja Sudah Tidak Ada Hak Bagimu Untuk Peduli Padaku 
Bukan atas nama dendam, hanya saja, aku tidak ingin kamu tahu kabarku. Aku tidak ingin kamu tahu sebahagia apa aku sekarang. Setelah apa yang kamu lakukan, dan setelah semua rasa sakit yang bertubi-tubi, tidak ada hak lagi untukmu memastikan aku bahagia atau tidak. Dan kalaupun ada porsi kamu untuk itu ku ucapkan ‘Terimakasih’ aku tidak butuh. Silahkan ambil dan bawa pulang sendiri. Bukan kamu, bukan kamu yang aku butuhkan.

Bukan Kamu yang Aku Butuhkan Tapi Dia yang Membantuku Mampu Melupakanmu 
Sekarang aku sudah bisa tanpamu dan bahkan aku lebih baik tanpa dirimu, kini yang aku butuhkan tidak lagi kamu tetapi dia. Seseorang yang telah mampu membantu bangkit kembali dari keterpurukan saat ditinggalkan olehmu. Aku sudah bahagia dengannya walau tak bisa memilikinya, aku khawatir hadirmu hanya akan mengurangi rasa bahagiaku sekarang. Aku takut hadirmu kini adalah bencana dalam hidupku.

Kamu Jelas Akan Menang Bila Bersaing Dengannya Untuk Memenangkan Hatiku Kembali  
Kita sudah lama ada dalam satu rasa sudah jelas kamu adalah orang yang paling mengerti diriku, kamu adalah orang yang paling tahu bagaimana diriku. Aku juga masih bisa membayangkan indahnya di bahagia kan oleh dirimu. Segalanya tentang sesuatu yang membuatku tertawa dan nyaman kamu adalah orang yang paling tahu dibanding dengan dia. Jelas dia tidak ada apa-apanya jika dibandingkan denganmu, tidak bisa melakukan apa yang dilakukan olehmu padaku termasuk dalam hal menyakiti diriku. Yang dia tahu hanyalah bagaimana mengobati diriku dari sakitnya dihianati olehmu, yang dia tahu adalah membuatku tidak apa-apa jika aku tanpamu bahkan jika hanya sendiri saja.


Jika Harus Jujur Aku Tidak Mengingkari, Kehadiranmu Kini Masih Tetap Membuat Hatiku Berdebar
 Aku tidak mau berdusta pada perasaan ini, benar kamu masih tetap bisa membuat hatiku berdebar. Hanya saja tidak seperti dulu saat sebelum penghianatan itu terjadi, saat sebelum segala dusta mulai kamu lakukan. Benar kamu memang mendebarkan hatiku tapi itu tak membuatku tergoda untuk kukejar agar hati ini berhenti berdebar. Jika aku bisa jujur mengaku kalau hariku masih berdebar saat kamu hadir kembali bukankah wajar jika aku percaya diri mengatakan dia bisa menggantikanmu. 

Belajarlah Mengakui Kamu Menyesal Telah Melepaskan Sesuatu yang Kamu Anggap Tidak Berharga Dulu
 Karena terlalu banyak membandingkan, kamu sampai-sampai lupa melihat aku, seseorang yang kamu anggap tidak ada apa-apanya, seseorang yang keluargamu anggap tidak setimpal dengan mu. Kini setelah aku dekat orang lain, setelah kamu tahu rasanya dicintai oleh orang lain dengan cara yang tidak seperti kamu bayangkan, tiba-tiba kamu datang kembali pada diriku. Kamu sudah lelah menimbang-nimbang antara perhatianku dan dia bukan? makanya kamu kembali datang seolah-olah ingin memberitahuku jika dulu kamu khilaf.

Aku Tidak Ingin Melukainya Tolong Pergilah, Menjauhlah Sejauh Mungkin Seperti yang Kamu Inginkan Dulu 
Aku takut kemunculanmu itu hanya akan melukainya, aku sangat takut dia cemburu padamu  walau memang saat ini aku belum bisa mendapatkan cintanya, dan aku takut dia berfikir aku masih mengaharapkanmu, miski sebenarnya aku sudah tidak ada apa-apanya lagi dengan dirimu. Bukankah kita sudah berakhir, jika masih ingin berteman mari tetap berteman tanpa harus saling menyapa dan meninggalkan jejak kemuculanmu meski itu hanya tanda like untuk postingaku di sosial media. Aku tidak ingin dia melihatnya mari hanya sama-sama saling mengaggap teman dalam hati saja. Tidakkah itu adil bagimu yang lebih dulu mengingkaari hubungan ini.

jika memang kau mencintaiku seperti apa yang kau ucapkan itu,, tolong bantu aku untuk selalu dekat dengan wanita yg aku idamkan itu,,,dan kamu juga tau pasti siapa orangnya ...!!!

Bagaimana Dengannya, Apakah Dia Lebih Baik Dariku? Apa Dia Menghapus Semua Kenangan Tentangku?


Aku tidak tahu apakah aku masih berhak menanyai kabarmu atau cukup dengan mengucapkan selamat saja padamu. Selamat telah menemukan pengganti diriku.
Selamat telah begitu cepatnya menemukan penggantiku, hingga membuatku sangat penasaran ingin menanyaimu apakah dia yang begitu mudahnya kamu temukan itu mampu menghapuskan semua kengan tentangku? Sesempurna apakah dia sehingga dengan mudahnya ‘memabukkan’ dirimu? 

Kamu Memang Telah Bersama Dengannya Tapi Benarkah Kamu Sudah Bisa Melupakanku? 
Aku tahu betul kamu kini telah bersamanya, tapi benarkan kamu sudah melupakanku?. Sudah tidak lagi mengingatku, atau bersamanya hanyalah sebuah kedok untuk menutupi bahwa sebenarnya kamu sangat merasa kehilangan diriku. 

Apakah Dia Sesabar Diriku Dalam Menyabarimu? Coba Beritahu Aku Adakah Seseorang Selain Aku Yang Bersedia Dihukum Olehmu Agar Menjadi Selalu Bisa Seperti Maunya Kamu 
 Sebenarnya aku sudah tidak ingin lagi mengingat tentangmu dan tak ingin tahu tentangmu. Tapi aku tidak bisa menghentikan rasa ingin tahuku apakah dia yang kini menggantikanku cukup mampu menyabari dirimu, sama seperti yang aku lakukan dulu, saat kamu meminta diriku menjadi seperti maunya kamu. 

Apakah Dia Lebih Baik Dariku, Yang Akan Selalu Mengatakan Tidak Apa-Apa Jika Kamu Tidak Menepati Janjimu? 
Lalu bagaimana dengan maafnya? Apakah dia selalu bersedia memaafkanmu jika kamu tak mampu menepati janji-janjimu. Tidakkah kamu bertanya padanya bagaimana rasanya beratanya memberikan maaf padahal sudah sangat berharap.

Apakah Kehadirannya Mampu Mencuci Bersih Semua Memorimu, Hingga Kenangaku Tersapu Bersih 
Dengan ada dirinya apakah menghapuskan kenganku menjadi mudah? Apakah kini sudah tak adalagi kengan anatara kita. Apakah sesuatu yang berhubungan tentang diriku sudah tergantikan olehnya? 

Apakah Kamu Menemukan Apa Yang Tidak Kamu Temukan Dariku, Atau Kamu Malah Merasa Seperti Orang Bodoh Mencari Padahal Sudah Menemukan? 
Benarkan darinya kamu menemukan sesuatu yang tidak kamu temunkan dari dalam diriku? Benarkah apa yang kamu cari selama ini ada dalam dirinya hingga tega melepaskan aku. Atau mungkinkah kini kmu merasa betapa bodohnya dirimu karena mencari sesuatu yang sebenarnya usdah kamu miliki? 

Lalau Mengapa Kamu Tidak Berani Membanggakan Dirinya Dan Membandingkan Dirinya Di Hadapan Banyak Orang? 
Aku tidak masalah jika kini kamu mendatangiku lalu mengatakan bahwa dia telah menghapuskan kenangnku dari dalam dirimu. Aku tidak masalah jika kmu datang memberitahukanku bahwa semua yang kamu cari selam ini ada pada dirinya.