My name

My name

Senin, 19 September 2016

Sebuah Pesan Rindu Untukmu (26 Oktober 2010)

Cahaya menerobos melewati celah celah dedaunan membuatku memicingkan mata. Silau. Aku ingin lebih lama lagi di sini. Sesekali kuseka rambutku yang dibelai kasar oleh angin. Kubetulkan letak dudukku mencoba fokus mengerjakan laporan yang harusnya sudah selesai dari beberapa hari yang lalu. Aku bosan…
Tidak satu katapun di dalam laporan itu yang aku mengerti. Seolah pekerjaan itu bukan milikku. Aku harus istirahat sebentar. Kugerakkan scroll laptopku naik turun mencari lagu untuk kuputar. Sebuah lagu yang pas untuk menemani suasana sore ini. Padahal aku sudah sengaja jauh-jauh mencari tempat untuk menyepi agar bisa fokus menyelesaikan pekerjaanku yang terbengkalai. Tapi tetap saja sampai di sini, aku masih tidak mendapatkan ide apa-apa.
Tiba-tiba mataku tertuju pada satu foto yang sudah lama sekali. Yang seharusnya sudah lama kulupakan. Ternyata foto ini ada di sini. Mimpiku, mimpi terbesarku. Mimpi yang ada dalam tidur panjangku. Ada rasa rindu menggebu di sudut hati. Rindu ini bukanlah rindu yang datang tiba-tiba. Rindu ini sudah ada di sana sejak lama hanya saja mungkin tidak pernah ada cukup alasan untuk mengenangnya. Seperti biasa, rasa rindu yang pasti diikuti oleh rasa ingin tahu. Hatiku pun bertanya di mana dia? Apa yang sedang dilakukannya? Apa kabarnya kini? Dan…apa dia ingat padaku?
Jemariku mengikuti keserakahan hatiku. Mencoba menulis bait demi bait, seandainya saja. Cuma seandainya, aku memberikan padanya sebuah surat. Sebuah surat di mana aku ingin meluapkan seluruh isi otakku, meringankan beban rindu dihatiku. Seandainya kutulis sebuah surat. Lantas apa yang akan aku tuliskan. Kutarik laptopku dan mulai mengetik.

Dear mimpi, 
Apa kabarmu kini? Tiba-tiba saja aku ingin tau kabarmu. Ini aku. Masih Laki-laki yang sama yang pernah ada dalam ceritamu. Mungkinkah kau masih mengingatku? Ini aku… Masih Laki-laki yang sama yang bibirnya pernah kau hiasi senyum dan tawa. Dan kau… masih menjadi mimpi buatku. Sampai kini.
Hembusan angin seakan melayangkan pikiranku ke masa lalu..
Taukah kau wahai mimpi? Masih segar dalam ingatanku saat pertama aku menemukanmu, mimpiku. Lewat skenario terhebat dan termanis yang disiapkan Tuhan untukku. Pagi itu adalah pagi yang biasa, tempat yang biasa, suasana yang biasa. Dan aku datang dengan cara yang biasa pula, tak ada yang istimewa. Tapi kau di sana, di sebuah konter isi pulsa elektrik. Menatapku tak berkedip sejak aku memasuki ruangan itu. Kau menatapku tak berkedip seakan duniamu terhenti sejak kedatanganku. Kau menatapku lekat, seakan waktumu membeku karenaku.  

Aku tersenyum spontan mengingat saat itu. Seakan adegan masa lalu diputar kembali didepan mataku. Kamu mimpiku, dengan kemeja bermotif kotak, Jilbab putih dan wajah sedikit berantakan. Pandanganku merasa aneh saat pertama kali melihatmu. Otakku berusaha mengenang hingga bagian bagian terkecilnya mengikuti jemariku yang mengabadikannya.
Kau menatapku, hanya menatapku. Tanpa berbicara. Hanya menatap. Itu gila! Respon apa yang harus aku berikan saat ditatap seperti itu? Aku hanya bisa menundukkan wajahku karena malu. Berharap kau berhenti menatapku atau wajahku akan berubah warna saking malunya. 
 "Semoga wajahku tidak memerah. Semoga aku tidak tersipu sipu dan senyum senyum seperti orang bodoh" doaku dalam hati.
Lagi, bibirku tersenyum simpul mengingat wajahmu yang terlihat bodoh saat itu. Atau mungkin aku sendiri menertawakan kebodohanku yang tertunduk dan merasa malu kau pandangi. Aku menghela nafas panjang, mencoba mengingat seperti apa suaramu. Menyusunnya dalam otakku dan memutarnya seolah aku mendengar suaramu ditelingaku. Ah..ya..suaramu. Tawamu, candamu..kulanjutkan tulisanku.
Aku hanya bisa diam dan menunduk merasakan tatapanmu. Ada rasa tersanjung dalam hatiku. Kau membuatku merasa bahwa aku makhluk paling indah di matamu. Aku merasa berharga, merasa bahagia. Kau yang membeku menatapku tanpa berkedip seolah aku adalah  Laki-laki paling berwarna yang kau temui pagi itu.
Jemariku berhenti sejenak. Kubetulkan sikap dudukku sambil menghela nafas panjang membuang pandangan ke batas horizontal biru disana. Pemisah laut dan langit. Mesti sama sama berwarna biru tapi jaraknya begitu jauh. Sangat jauh. Seperti kamu mimpiku. 
Kusesap kopiku yang sudah dingin. Yah..bukan nikmatnya yang kucari, aku hanya butuh teman pengusir kantuk. Sekilas jam tanganku menunjukkan pukul 3 sore. Kuedarkan pandanganku ke sekeliling. Tidak banyak orang di sini. Dunia sudah begitu berubah. Kubiarkan laptopku dalam posisi menyala, kuputuskan untuk berjalan jalan sebentar melemaskan kaki.
Setapak demi setapak aku membuat jejak di sepanjang jalan ini. Berangkat dari sebuah tatapan, ceritaku pun berlanjut.. Kau tidak pernah menanyakan namaku. Kau pun tidak pernah mengenalkan dirimu padaku. Kau hanya memanggil namaku sesukamu, tertawa di sampingku semaumu. Kau memperlakukanku seolah aku adalah bagian dari masa lalu yang sudah sangat kau kenal, seakan aku adalah bagian dari hidupmu. Tanpa canggung
Tapi aku, adalah seorang  Laki-laki yang menjalani hidup yang berbeda denganmu. Aku melewati jalan yang lain dari jalanmu. Dengan latar belakang yang sama sekali berbeda. Menyadari semua itu, langkah kakiku pun terhenti.
Ada perasaan perih dan sedih menggelayuti hatiku, membungkus perasaan rindu yang teramat sangat. Pengakuan hati atas arti seseorang didalamnya.
Namun mimpi, hari hari denganmu hidupku tak lagi menjadi biasa. Karena tiap saat kulihat orang-orang tersenyum maka senyummu pasti ada di antaranya. Saat kudengar mereka tertawa bahagia maka mereka pasti tertawa karnamu. Akupun mulai tergoda.

Suatu hari, kutemukan kau diantara hingar bingar teriakan senang anak-anak kecil. Beberapa di antaranya, bahkan menangis karna kau usili. Aku merasa terpikat. Lalu suatu saat kutemukan diriku tenggelam dalam doa-doa suci yang kau lantunkan. Menghangatkan hati, meneduhkan jiwa. Maka saat itu juga, hatiku mulai jatuh kepadamu.
Mimpi, aku juga ingin tersenyum. Aku ingin tertawa. Merasakan hangat dan perasaan teduh itu sedikit lebih lama. Dan sejak saat itu, aku biarkan kau membuatku tersenyum, dan akupun tertawa di sampingmu. Memandangi wajahmu, menikmati suaramu. Mengikuti arus, melewati waktu, menjalani hari demi hari. Tuhan, aku mulai terbuai. Hari-hariku penuh dengan namamu, penuh dengan kehadiranmu. Senyummu, tawamu, candamu, rajukanmu, amarahmu. Ini menyenangkan, sangat membahagiakan. Seakan aku menemukan sekeping ruh yang terpisah dariku sejak lama. Ah..andai semua ini berlangsung selamanya. 
Alisku mengernyit seolah menolak merasakan sakit yang tiba-tiba muncul dihatiku. Setiap cerita yang berawal indah, tak akan mungkin berlangsung indah selamanya. Seperti malam yang ditemani siang. Seperti itu pula Tuhan menciptakan tangis mendampingi tawa. Aku ingin bercerita padamu, mimpi. Tawaku, tangisku, rinduku. Semuanya.
Namun hari itu, kutemukan kau berjalan di jalanmu. Kau tertawa di duniamu. Kau terlihat begitu berkilau di mataku. Menyaksikan apa yang ada di belakangmu, merasakan semua yang ada di belakangku. Seperti terbangun, tersadar sepenuhnya. Kutarik mundur langkahku, setapak demi setapak..menjauh. Mencoba menjauh. Kakiku..Mulai melewati batasanku. Tak boleh kubiarkan. Kakiku berusaha melangkah, untuk memasuki hidupmu..mimpi. Tak akan kubiarkan. Meskipun aku tau, hatiku telah melewati batasannya sejak lama.
Kupejamkan mataku sejenak mencari jawaban, masihkah perasaan itu di sana. Dan kembali mengetik.
Aku terjaga, tersadar sepenuhnya. Hidup ini tak ada yang berlangsung selamanya. 
Apa yang harus kulakukan kini? Mengikuti keserakahanku melangkah masuk ke hidupmu? Dengan menutup mata, menutup telinga mengacuhkan semuanya. Atau sanggupkah aku meninggalkan semua dan menawarkan persahabatan? Dan saat aku terdiam termangu disini, tiba tiba saja kau pergi…dan menghilang.
Jemariku berhenti, sebulir air menetes di pipiku. Aku, masih bisa merasakan sakitnya. Walau lukanya tak lagi segar. Tapi perasaan sakit itu masih bisa kuingat dengan jelas. Dengan cepat, kuseka pipiku dan kulanjutkan tulisanku.
Taukah kau apa yang aku rasakan saat itu mimpiku? Rindu..begitu merindukanmu. Aku menangisimu hingga aku lelah menangis. Ingin aku berlari menyeret kakiku menemuimu, akan kugunakan alasan apapun itu agar aku bisa melihatmu. Tapi kakiku membeku. Ingin aku berteriak betapa aku merindukanmu, tapi hatiku tak mengizinkan. 
Mengapa? Bukankah sejatinya cinta menyatukan dua hati yang berbeda? Lalu mengapa aku merasa takut melihat perbedaan kita? Bukankah seharusnya cinta memperjuangkan, mempertahankan? Lalu mengapa aku hanya sanggup terdiam dan menarik langkah mundur? Pengecutkah aku? Atau ini semua hanya sebuah bentuk dari pertahanan diri.
Apa yang harus aku lakukan wahai mimpiku? Aku bukan penjaga waktu yang menguasai masa lalu. Aku pun tidak akan sanggup memanggilmu. Aku hanya mampu bertahan dan menjalani hidupku. Membiarkan semuanya berlalu. Berharap waktu yang menyelesaikan semuanya, menghapus semuanya.
Dan saat ini? 
Aku… hanya akan merindukanmu sampai aku merasa bosan.
Aku hanya akan mengingatmu sampai aku lelah.
Akan aku biarkan hatiku… dan bibirku menyebut namamu sesekali sampai aku muak.
Sampai nanti, saat semuanya berlalu. Saat sekali lagi aku menemukan dia yang akan membuatku tertawa. Menemukan dia yang akan mengisi hidupku dan menambah warna dalam hariku. Saat aku bertemu dia yang mengisi hatinya dengan namaku. Maka saat itu, aku akan memperjuangkan semuanya, mempertahankannya. Tak akan aku biarkan perbedaan membuatku takut dan mundur. Dan aku pasti bisa melepasmu. Meletakkanmu dalam bingkai masa lalu. 
Aku bersandar sejenak, untuk sesaat melihat kabut. Menyaksikan bagaimana kabut bergulung dan berakhir menjadi awan. Kuhela nafas panjang, dan menhembuskannya perlahan-lahan. Nanti? Kapan nanti itu? Kapan aku baru bisa berhenti merindukanmu? Ah..tepatnya, kapan aku berhenti menyadari bahwa namamu masih membawa pengaruh besar dalan hatiku. 
Ya..akan aku lakukan. Akan aku perjuangkan, walau aku tidak tau kapan baru bisa melupakanmu, kapan baru mampu mengikhlaskanmu. Tapi saat itu pasti datang. Saat dimana aku mampu tersenyum tanpa mengingatmu, saat dimana aku tertawa tanpa berharap bisa mendengar tawamu. Dan dia , orang yang akan menggenggam tanganku. Aku berjanji tak akan melepaskan tanganya. Tidak lagi. Karna bukankah cinta sejatinya mempersatukan dua hati yang berbeda. Maka akan aku hadapi perbedaan itu. 
Tapi mimpi… seandainya Tuhan menawarkan kepadaku untuk mengulang kembali ke masa lalu. Ke saat dimana pertama kali kita bertemu. Dan Tuhan menawarkan pilihan lain untukku. Tidak akan ada yang berubah untukku. Karna tidak ada satu pertemuan pun yang aku sesali. Maka..jika memang Tuhan menawarkanku untuk kembali, aku akan tetap berjalan memasuki ruangan itu, tempat dimana kau duduk di konter kecil itu dan menghentikan waktumu karnaku. Menatapku.
Ku hela nafas panjang mengakhiri tulisanku. Ku baca sekali lagi..dan aku merasa puas. ini bukan hanya sebuah tulisan untukku. Ini rinduku, kasih sayangku, ini kenanganku, dan ini pesanku. Pesan yang mungkin tak akan pernah tersampaikan. Pesan yang mungkin hanya akan jadi cerita. Pesan yang hanya akan tersimpan dalam otakku. Tapi seandainya bisa..bolehkah pesan ini ditemukan. Bolehkah pesan ini tersampaikan. Sebagai akhir dari sebuah harapan. Bagian penutup dari sebuah cerita. 
Maka dengan mengumpulkan seluruh keberanian. Ku klik "publish" pada blog ku. Setidaknya kalau hanya ini, masih sanggup aku lakukan. Ah…sepertinya aku memang penakut. 
Dua minggu kemudian
Aku masuk ke kamarku dengan menenteng sepiring nasi goreng dan segelas air putih. Ku perhatikan tanda lampu berkedip dari ponselku. Dengan malas kuraih ponselku. Pasti pesan dari kantor. Padahal sudah susah payah laporan kemarin aku selesaikan. Setidaknya, biarkan aku istirahat sebentar. Ku letakkan piringku untuk membuka email masuk.

Ternyata Email itu bukan dari kantor :
Subjek : Lis********@gmail.com
Cc :
"Kak, apa kabar? Ini aku.

Minggu, 18 September 2016

Tak Pernah ku ceritakan pada siapa-siapa

Dan tiba-tiba segalanya terlihat jelas. Kenangan-kenangan itu sekelebat satu per satu muncul memenuhi ruang-ruang memori saat ini. Yang selama ini saya merasa begitu bersalah terhadapmu, merasa saya yang jahat, merasa kamu yang terbaik, merasa paling mengenalmu, merasa kita bakal bisa baik-baik saja karena kita pernah bersama sekejap hancur seketika. Saya sempat berfikir betapa jahatnya saya pada saat itu, betapa kamu begitu peduli saya, betapa saya telah melakukan kesalahan hanya karena masalah kecil.
Ternyata saya salah. Saat itu saya telah mengambil keputusan paling terbaik untuk hidupku, saya telah menyelamatkan diri dari orang yang tidak pernah benar-benar baik dan suci. Tidak, tidak lagi. Saya tidak akan membohongi diri sendiri dengan menganggap mu itu baik. Karena dari dahulu hingga sekarang itulah dirimu. Bahkan baru kali ini saya merasa ada orang yg lebih buruk dari pada diri saya sendiri.
Ya, itulah kamu. Tadinya sempat ingin menjalin silahturahmi kembali tentunya sebagai apa mestinya. Toh masing-masing dari kita sudah memiliki cerita indah bersama sosok lain. Tetapi seketika kau buat runtuh semua dengan keegoisan yang entah apa gunanya, yang akhirnya membuat saya berpikir mungkin selama ini kau begitu karena kau membenciku, sesuatu yg sebelumnya tidak pernah terpikirkan olehku. Sungguh kau sendri yg telah merusakan segala citramu yang telah saya bangun dalam kenangan selama ini. Jika saat ini saya kembali diam bukan karena saya masih terjebak masa lalu.
Saya hanya tidak ingin tersulut kemarahan hanya karena saya sudah tidak lagi mengenalmu, mengenal pola pikirmu. Dan saya juga merasa tidak perlu membangun percakapan dengan dirimu yg ntah tidak bisa saya deskripsikan di sini. Tidak ada lagi kata maaf dan memaafkan. Selama ini jalur yang kita tempuh sudah jelas menuju arah berlawanan. Mudah-mudahan kamu sadar akan itu. Cukup selama ini di depan mereka saya tersenyum saat masa lalu kita diungkit-ungkit lagi, karena ternyata kita tidak pernah baik-baik saja. Hanya saja seegois-egoisnya saya, saya tidak akan pernah menceritakan kepada mereka apa yang telah kamu lakukan. Biar hanya manismu saja yang mereka tahu dan saya, selama saya menggubrismu dan hanya pahitmu saja yang saya rasakan.
Mungkin berbulan-bulan yang lalu manisnya hanya bersifat sementara. Saya tidak pernah menyesali dahulu kita pernah bersama. Jujur iya saya pernah menyesal melepasmu karena pada saat itu saya menyalahkan diri saya atas keputusan yg telah saya ambil. Namun waktu ternyata merupakan obat untuk penyesalan. Dengan jangka waktu yang panjang, akhirmya waktu menyadarkan saya bahwa salah satu keputusan terbaik yang telah saya ambil dalam hidup saya adalah melepasmu.