Sebenarnya aku pun sudah
paham arti dari memperjuangkan seseorang. Awalnya aku tak ingin
melakukan ini, tapi tak tahu mengapa semangat ini datang tanpa aku
inginkan. Kamu, ya kamu adalah sebuah alasan mengapa aku berani
mengambil resiko yang berat "memperjuangkan sebuah komitmen yang
tersusun rapi dengan ekspektasi kita akan bahagia dengan segala cinta
yang kita punya."
Seiring waktu berjalan, aku menemukan arti dari
sebuah keyakinan. Ketegasan diri untuk bertahan pada satu pilihan.
Sebuah pilihan yang tak seharusnya aku pedulikan begitu dalam kala itu.
Namun, lagi-lagi sang waktu yang merubah segalanya. Dan aku pun
terjatuh, pada suatu rasa yang mengharuskan aku untuk bertahan dan
memperjuangkan komitmen ini entah sampai mana.
Aku mulai
ya? Memperjuangkan hubungan ini adalah sebuah hal yang sudah aku
pikirkan matang-matang. Dengan berbagai rasa takut gagal atau kisah yang
mengenaskan di waktu lalu terus saja membayangiku, tapi mudah saja aku
lawan tanpa aku pernah sedikitpun berpikir "mengapa tidak berkaca dengan
kisah yang lalu?"
Tak
sekalipun terlintas dibenakku bahwa ini adalah sesuatu yang percuma.
Mungkin saja Tuhan ingin aku lebih giat lagi. Bodoh ya? Hingga akhirnya
kegaduhan di kepala dan rasa letih dalam hatiku tak bisa lagi aku
sembunyikan. Kok malah berjuang sendiri?
" Kamu capek? Yaudah diakhirin saja, ya?
Kalimat
seperti itu nggak bisa dengan mudah dilakukan sebagaimana layaknya aku
memilih untuk memperjuangkan kita kala itu. Entah mengapa namamu yang
selalu aku perbincangkan pada Tuhan dalam doa kini aku merasa Tuhan
telah menjawab tapi dengan jawaban yang lain. Jawaban yang mengharuskan
aku untuk berhenti memperjuangkan sesuatu yang nggak seharusnya aku
lakukan.
Rasanya seperti berhadapan dengan pistol di depan mata,
yang sebentar lagi peluru itu akan dengan cepat menembus kepala, lalu
hancur. Atau pergi berbalik arah menghindari serangan peluru, tapi malah
hancur juga karena peluru menembus punggungku.
Dan benar saja,
dengan adanya kenyataan saat ini benar-benar mampu memutuskan
kebahagiaan dalam diriku, dengan sekejap. Nelangsa setengah mati
tapi Tuhan yang baik menjawab do'aku. Mungkin memang harus begini
jalannya, harus bisa ikhlas dan sadar bahwa kau terlalu jauh untuk aku
gapai.
Tenang saja, kau tak usah lagi resah akan segala keluh
kesahku setiap hari. Biarkan saja kita berjalan sebagaimana baiknya kita
saat ini.
Aku pergi ya?
