My name

My name

Rabu, 18 Mei 2016

Mari Merubah Diri

Mari Merubah Diri, Dari Penonton Menjadi Pelaku Kesuksesan

Sedikit coretan dari seorang penonton yang sedang belajar merubah diri, semoga bisa menginspirasi.
Sejenak aku berfikir, mengapa cerita hidupku tidak seindah cerita mereka?
Mereka yang dengan mudahnya mendapatkan apa yang mereka inginkan, sekolah di sekolahan favorit, masuk perguruan tinggi negeri ternama, study banding sampai ke negeri paman sam, negeri sakura dan negeri kincir angin, jalan-jalan kesana kemari, dan sudah berkesempatan untuk berdo’a di multazam di usia muda, mungkin kelihatanya mudah tetapi aku yakin mereka juga penuh perjuangan untuk bisa sampai pada keadaan itu.
Aku sadari itu, tetapi masih saja aku menjadi penonton kesuksesan mereka, walaupun aku yang terdepan, tetap saja aku hanyalah seorang penonton.

Tapi kawan, jika kamu juga seorang penonton mungkin Allah yang menggerakkan hatimu untuk membaca tulisan yang ditulis oleh orang yang juga seorang penonton, kita sama-sama belajar untuk menjadi seorang pemeran dan tidak lagi menjadi penonton, tetapi tetap saja semua pasti ada prosesnya.

Baiklah kawan, kita akan mulai belajar, kita awali dengan niat, niatkan karena keyakinan agama masing-masing.
Segala apapun yang akan kita lakukan hendaklah diawali dengan niat, belajar lah melibatkan Tuhan dalam segala urusan kita karena Dialah sutradara kehidupan kita.

Untuk menjadi seorang pemeran kita harus merubah mindset bahwa kita tidak terlahir untuk menjadi penonton saja.
Sebagian dari kita mungkin berfikir bahwa sudah beginilah takdir-Nya, kita hanya bisa menjadi penonton saja, sebenarnya kita bisa merubah itu, dengan merubah mindset mungkin kita akan terdorong untuk melakukan action perubahan.

Saat kita berfikir kita hanya seorang penonton sebenarnya kita sudah berada di gerbang perubahan.
Karena ada sebagian penonton tidak menyadari bahwa dirinya adalah seorang penonton, mungkin mereka merasa sudah berada pada titik kenyamanan mereka, karena tidak menyadari hal tersebut mereka tidak tergerak untuk mengubahnya dan tetap setia menjadi seorang penonton tetapi apabila kita menyadari bahwa kita adalah seorang penonton kita pasti tergerak untuk merubah keadaan tersebut.

Untuk merubah itu, kita harus mencari motivasi dari segala penjuru dunia, jadikan itu sebagai pembangkit energi positifmu.
Mengapa mereka bisa, kita tidak??

Mungkin itu yang ada di benak kita saat melihat kesuksesan orang tanpa menjadikan kesuksesan mereka sebagai motivasi untuk kita, memang benar, semua orang punya kemampuan yang berbeda-beda dan punya keahlian di masing-masing bidang tetapi kita pasti bisa untuk tidak menjadi penonton lagi jika menjadikan itu sebagai motivasi.
Dream, Pray And action, go go go
Berani bermimpi, berdo’a dan berusaha melakukan aksi, karena jika bukan kita yang merubah cerita kita, siapa lagi??
Sesungguhnya Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang mengubah nasibnya.
Tulis semua mimpi kita, jangan takut untuk bermimpi, jangan lupa berdo’a dan giatlah berusaha insya Allah jalan terbuka lebar untuk penonton yang tidak ingin selamanya menjadi penonton seperti kita.
Ayolah kawan, kita pasti bisa, kita tidak harus menjadi seperti diri mereka tetapi kita bisa sukses atau bahkan lebih sukses dari mereka, Okeh, semangatttttttt

Selasa, 17 Mei 2016

Gelar Sarjana Bukan Segalanya. 10 Kalimat Penyemangat Ini Bakal Bikin Kamu Percaya

Gelar Sarjana Bukan Segalanya. 10 Kalimat Penyemangat Ini Bakal Bikin Kamu Percaya


Mempunyai pendidikan yang tinggi adalah keinginan semua orang. Namun, bagi beberapa orang pendidikan tinggi adalah kemewahan. Biaya yang tidak sedikit, usaha yang harus dikerahkan dengan keras, sampai upaya menyelesaikan studi yang memerlukan perjuangan berdarah-darah jadi alasannya.
Oleh sebab itu, 10 kalimat motivasi ini bisa membuatmu semakin percaya diri agar lebih mantap menjalani kehidupan ini. Penasaran? Yuk simak!

1. Jerih payahku sendiri…


2. Aku tidak akan pernah mau putus asa

 

3. Kuliah bukan penentu


4. Malah banyak yang tidak bisa menghargai orang lain


5. Kami lebih dahulu punya mental yang kokoh


6. Soal jodoh, kami pun harus lebih keras mendapatkannya


7. Tapi, kita tetap punya mimpi yang sama


8. Aku akan tetap berusaha!


9. Saatnya menggali potensi


10. Nasib, kita yang tentukan!


Kepada Kedua Orang Tuaku, Mohon Restui Aku Berbahagia Dengan Pilihanku

 Kepada Kedua Orang Tuaku, Mohon Restui Aku Berbahagia Dengan Pilihanku

( Di dapat dari Cerita Teman)

Aku tahu, aku paham setiap orang tua menginginkan yang terbaik untuk anaknya. Begitupun dengan kalian orang tuaku.. Maaf bukan aku tak menghargai keputusan kalian, bukan aku tak menuruti keinginan kalian bahkan menjadi anak durhaka, sama sekali tidak. Selama ini putrimu selalu berusaha menjadi anak yang baik di mata kalian, selalu berusaha mematuhi kalian, Tapi perihal pendamping hidup.. Bolehkah anakmu ini memilih pilihannya sendiri??
Andai putrimu ini boleh berpendapat, bukankah seorang anak mempunyai hak untuk berpendapat dan memilih.. Aku mengerti, kalian jauh lebih berpengalaman tentang ini dari padaku. Tapi ku mohon dengarkanlah pendapatku ini,
Tentang lelaki pilihanku ini, aku punya alasan kenapa aku tetap memilihnya, aku punya keyakinan kenapa aku kekeh memilih untuk tetap bertahan bersamanya..
Karena aku pun punya pendapat sendiri tentang hal ini, yang mungkin berbeda dengan anggapan kalian.

karena berjuang bersama dari nol itu lebih indah dan nikmat jika dijalani dengan penuh keyakinan dan optimis

1. Tak perlu yang berpangkat atau sederajat, cukup dia yang paham agama dan mampu menjadi imam yang baik.

Dia yang paham tentang agama, yang mau menerima segala kekurangan dan kelebihanku, mampu menjadi imam yang bijak untuk keluarga kecilku kelak, mampu membimbingku menjadi wanita yang lebih baik, mampu mengingatkanku di kala diri ini salah, mampu menjadi sandaran di kala tubuh ini lelah. Bagiku itu sudah lebih dari cukup. Dan aku melihat itu semua ada pada dirinya, lelaki pilihanku.
Karena menurutku lelaki sederajat ataupun berpangkat tinggi sekalipun tak ada artinya, jika tak paham tentang agama dan jika tak mampu menjadi imam yang baik. Ya ibarat bangunan tanpa penyangganya. Belum tentu juga mereka yang sederajat dan berpangkat tinggi mau menerimaku dengan segala kurangku, sebagaimana dia menerimaku.

2. Tak perlu mapan atau ber-uang, cukup dia yang mau bekerja keras dan bertanggung jawab

Bagiku lelaki mapan dan sukses tidak melulu dipandang dari segi ekonomi maupun pekerjaannya,..
Yaa aku tau, meskipun memang seolah uang itu segalanya di zaman sekarang ini.
tetapi bagiku justru lelaki yang mau terus berusaha, mau bekerja keras serta mampu bertanggung jawab itu sudah cukup. Bukankah berjuang bersama dari nol itu lebih indah dan nikmat jika dijalani dengan penuh keyakinan dan optimis. Lagipula masalah rezeki sudah ada yang mengaturnya, bukan?! Jadi kalian tak perlu khawatir akan kekurangan apapun selagi kita masih hidup dan itu masih bisa dicari.
Aku yakin dan percaya, bahwa lelakiku tak akan membiarkan keluarga kecilku kelak kekurangan bahkan sampai kelaparan. Dia akan selalu berusaha untuk menghidupi keluarga kecilnya kelak. Dia tak akan lelah untuk selalu berusaha dan bekerja keras di jalanNya.
we have Allah
yang tak pernah tidur

3. Tak harus dari keluarga sempurna, karena kesempurnaan hanya milik-Nya

Apa yang salah dengan keluarga yang tidak sempurna? Tidak lengkap? Aku rasa jika dibolehkan untuk memilih, tidak ada yang mau untuk memiliki keluarga yang tidak lengkap, tidak utuh, tidak sempurna. Semua pasti menginginkan keluarga yang utuh sebagaimana mestinya. Tapi lagi-lagi itu bukan kehendak kita, itu sudah menjadi kehendakNya.
Aku justru salut, aku bangga memilikinya.. Lelaki yang justru tumbuh dengan rasa tanggung jawab yang luar biasa terhadap keluarganya. Lelaki yang mementingkan keluarganya dibandingkan dirinya sendiri, lelaki yang sangat menyayangi orang tua dan adek serta kakak-kakaknya..
Dalam pandanganku, lelaki yang sedari awal seperti ini, maka kelak jika telah berkeluarga, ia akan menjadi pemimpin yang lebih bertanggung jawab dan sangat menyayangi keluarga kecilnya sebagaimana ia menyayangi keluarganya.
I proud of you and i love you more aii  

4. Bahagia dan Nyaman, itu yang aku rasakan ketika bersamanya

Suatu hubungan jika tidak ada rasa nyaman dan tak adanya kebahagiaan, rasa-rasanya tak akan mampu bertahan lama. Entah bagaimanapun usahanya untuk menciptakan kenyamanan itu, jika tidak nyaman tak akan mungkin bisa bertahan satu sama lain. Tapi aku, aku menemukan itu ketika bersamanya. Aku merasa aman, nyaman dan terjaga saat aku ada di dekatnya. Aku yakin kelak, dia mampu menjagaku dan memperlakukanku dengan baik, sebagai wanitanya.
Aku percaya, lelakiku akan selalu berusaha membahagiakanku dan mengusahakan yang terbaik untukku untuk keluarga kecilnya kelak, semampu yang ia bisa, sekuat tenaga yang ia miliki.
Hal yang perlu kalian tau Maa, Paa. Belum tentu aku sebahagia ini jika aku tak bersamanya atau bahkan jika kalian memaksa untuk memisahkan kami.

5. Dia adalah sosok yang bisa menjadi teman, kakak, partner, dan imam yang baik buatku.

Aku mengenalnya bukan sebatas hari, maupun minggu..  Berbulan-bulan aku mengenal sosoknya, itu membuatku cukup yakin untuk menjadikannya sebagai pendampingku. Bukan tanpa pikir panjang, tapi dalam beberapa bulan itu akupun telah mempertimbangkan segala sesuatunya dan aku yakin dia mampu menjadi patner hidup yang baik buatku, Imam yang mampu membimbingku, memahamiku, menerima segala kekuranganku.

6. Bersamanya aku merasa tercukupi dan tak pernah ingin mencari yang lain, selain daripadanya.

Sebelumnya aku tak pernah sebahagia ini, tapi bersamanya aku selalu merasa bahagia. Bahkan sebelumnya aku tak pernah mencintai seseorang sampai sebegini besarnya. Tapi kepadanya, setiap hari aku jatuh hati..
Bersamanya aku merasa tercukupkan dan bahkan tak ingin lagi mencari yang lain selain daripadanya.
Dari Putrimu yang Sangat Menyayangi kalian “Maapaa”
Semoga kelak kalian memahami isi hatiku,
Aku tau apa yang kalian lakukan adalah untuk kebahagiaanku, demi melihat kebahagiaanku.. Tapi terkadang kebahagiaan yang kita anggap sama itu ternyata berbeda.
Mungkin menurut kalian aku bahagia, tetapi bisa jadi sebaliknya.
Aku tak pernah tau dan tak pernah merencanakan, akan mencintai seseorang (Lelakiku) sebesar dan senekad ini, ada rencanaNya yang tak pernah kita tau. Mungkin ini sebagian dari rencanaNya.
Semoga Allah lekas membukakan pintu hati maapaa, karena kami butuh do’a dan restu dari kalian.
Aku percaya, selalu ada jalan untuk setiap niat baik yang kita upayakan.

Maafmu Hadir di Waktu yang Salah


Wahai Kamu yang Menyakiti Hatiku Dengan Terlalu, Maafmu Hadir di Waktu yang Salah


Dengan jelas ku ingat hari perpisahan kita, hari di mana kau putuskan untuk menyudahi yang sudah-sudah, hari di mana kau menyerah atas segala perjuangan kita. Tak ada alasan saat itu mengapa kau memutuskan untuk mundur. Segala harapan yang telah kita buat sedemikian indahnya seketika hancur atas keputusanmu.
Layaknya manusia biasa sudah pasti aku terluka, sudah pasti aku mengganggapmu tak setia sampai aku membencimu sejadi-jadinya.
saat otakku sudah tak pernah mengenangmu. Bukan terlambat tapi lebih tepatnya itu semua hal sia-sia yang kau lakukan saat ini. Penyesalan, kata maaf serta janji yang kau ungkapkan tak dapat mengembalikan rasa itu kembali. Ku akui keputusanmu saat itu mampu membuat siangku menjadi malam, tawaku menjadi tangis dan aku merasa hidup tapi seperti mati.
Aku bangkit dan menyadari hidupku terlalu bodoh hanya untuk meratapi orang yang tidak mencintaiku, sedangkan waktu terus berjalan, aku mencoba untuk bangun dan berdiri tegak tanpa kehadiranmu dalam hidupku.
Kini, aku telah bahagia bahkan aku telah melupakan segala tentangmu. Luka hatiku perlahan sembuh dengan kehadiran orang-orang terbaik dalam hidupku. Sudah cukup kebodohanku atas sikapku yang terlalu menghambakanmu, terlalu menggantungkan harapan kepadamu. Saat itu Tuhan menarikmu dari hidupku, memang menyakitkan tapi aku sadar Tuhan sangat merindukanku.
Maafmu ku terima, tapi saat ini aku telah berjanji akan menghijrahkan hidupku hanya untuknya.

Dia lukaku

Dia lukaku. Aku yang Harus Menyembuhkannya

 

Apa yang salah,.? Rasanya aku sedang melangkahkan kakiku di setapak yang mulus, tapi entah mengapa rasanya hatikulah yang berat untuk menapak dan jalan yang terlihat mulus pun terasa dipenuhi beling.

Oh ini hanya ilusi. Baiklah, akan ku coba menutup mata.

Dan tiada yang berbeda, beling itu masih terasa.

Tapi kakiku baik-baik saja. Lalu dari mana rasa sakit itu berasal? Ku pikir itu berasal dari "sini".

Entah karena lupa atau karena aku memang tidak tahu cara untuk benar-benar menyembuhkannya. Awalnya aku berpikir akan baik-baik saja dan hanya butuh balutan kecil untuk menutupinya, tapi akhirnya aku berpikir bagaimana mungkin aku membalutnya tanpa serpihan yang lain,.?

Baiklah, hal tersulit sekarang bukanlah bagaimana aku bisa membalutnya, tapi bagaimana aku bisa mengumpulkan serpihan yang lain,.? Apa aku harus kembali menapaki jejak kegagalan untuk menemukannya,.?

Baiklah, jika itu satu-satunya jalan maka akan ku coba.

Tapi……………….. ku rasa aku tetap saja kurang beruntung. Aku lupa jika serpihan terbesarnya masih tertinggal padamu. Iya, dia tertinggal bukan karena masih sedang berharap, tapi karena masih dipenuhi begitu banyak tanya yang seharusnya bisa terjawab. Aku telah mencoba meyakinkannya untuk segera beranjak, tapi dia terjebak dalam jemari ketidakpedulianmu.

Bisakah aku membuat sebuah permohonan,.? Tenanglah, aku takkan meminta semua untuk kembali seperti dulu. Jika mungkin, aku hanya akan minta satu hal: bisakah kau lepaskan kepingan yang masih tersisa padamu,.? Lepaskan saja, aku akan memungutnya. Bisakah,.? Ku mohon, aku harus sesegera mungkin mandapatinya untuk bisa benar-benar membalut semua serpihannya.

Entahlah apa nantinya dia benar-benar bisa kembali utuh atau tidak, tapi satu yang pasti bahwa dia akan meninggalkan bekas.