My name

My name

Sabtu, 23 Juli 2016

Surat Untukmu yang Dulu Kucinta, Jangan Usik Kehidupanku Lagi


Ya, dariku yang dahulu begitu sulit melangkahkan kaki dari memori tentangmu. Dirimu yang begitu mudah membuatku bersemangat menjalani hariku yang terasa kian berat. Dirimu yang begitu mudah menghadirkan tawa dalam air mataku yang tertumpah. Begitulah dirimu yang ada dalam benakku dahulu.

Setelah beberapa waktu aku lalui, aku membenahi serpihan hati yang seolah kepingannya semakin sulit kutemukan, aku mulai membangun asa di atas rapuhnya hatiku tanpamu, awalnya memang sulit sekali bagiku melangkah dan berpikir bahwa aku siap menulis kembali kisah baruku tanpa dirimu di dalamnya namun setelah aku menyadari bahwa jika pun kita bersama, itu hanya akan semakin menyakiti hati kita, menyakiti orang-orang yang begitu peduli terhadap kisah kita yang telah terjalin.

Aku sadar, bahwa aku bukanlah orang pertama yang menyadari hal itu, namun aku mengerti bahwa besarnya cintaku bukanlah untukmu, aku harus memberikan kesempatan bagi dia yang akan melengkapi hidupku, bagi dia yang akan melangkah bersamaku, mengisi ruang kosong, mengobati luka, dan bahkan membuat hariku kian cerah terlepas dari hari berawan dahulu.
Kini, aku telah siap, aku siap membuka hati yang sempat tertutup sangat rapat. Aku siap menjalani kisah baru yang dirancang Sang Pencipta untukku, aku akan melangkah dengan keyakinan bahwa senyum yang terkembang adalah untuk orang-orang yang menyayangiku.


Bersama surat ini aku ingin berterimakasih padamu, ya padamu.
Karenamu aku belajar bagaimana rasanya melangkah dalam pecahan kenangan indah dan bangkit sebagai pribadi yang lebih kuat. Aku yang sekarang sudah siap menulis kisah bahagiaku kembali, mungkin kisahnya bukan lagi tentang dirimu namun aku yakin kisah baruku akan menjadi kisah indah di mana aku dapat merasakan kembali getaran cinta dengan orang yang berbeda, di mana setiap pertemuan akan menjadi kenangan juga.
Kenangan baru dengan tempat berbeda. Berbeda dengan dirimu, aku melangkah dari titik terendah di mana aku merasakan pahit dan sulitnya bertahan dari rasa sakit. Namun, tahukah kau aku sangat bersyukur menyadari bahwa akulah yang dapat tegar dan melangkah keluar dari titik itu dan kisahku nanti akan menjadi kisah yang lebih kuat dari sebelumnya karena aku belajar untuk tidak mengulangi kesalahanku terdahulu.
“Impian harus menyala dengan apa pun yang kita miliki,
meskipun yang kita miliki tidak sempurna, meskipun itu retak-retak”
 
Kini aku disibukkan menata hatiku dan pribadiku untuk dia, dia yang akan mempertahankan aku dan sebaliknya. Aku tidak butuh bantuanmu untuk membuatku bersemangat, tidak juga setiap pesanmu yang menandakan kekhawatiran dirimu terhadapku. Jika dirimu melakukan itu hanya karena perasaan bersalah karena meninggalkanku atau bahkan kesepian karena dia tak sehangat diriku dahulu itulah yang harus kamu jalani. Aku akan melangkah dalam pilihan baru yang kubuat, begitupun dirimu yang sudah memulainya terlebih dahulu.
Berbahagialah dengan pilihanmu, karena aku pun telah bahagia dengan hidupku sekarang.
“Rasa cinta itu kadang semakin jernih ketika kita harus terpisah. Rasa cinta itu bisa tumbuh subur di tempat yang asing dan jauh. Rasa cinta itu tumbuh lewat jalan yang berliku, lewat kegelapan dan air mata. Rasa cinta yang seperti itu sejatinya akan menjadikan kita kuat.”
 

Minggu, 17 Juli 2016

Tentang Kamu yang Tak Bisa Dilupakan Ibuku


Dulu, kamu sering datang ke sini seminggu beberapa kali. Bukan cuma bertemu denganku, tapi juga ibu dan ayahku. Kamu menganggap mereka sebagai sosok yang berharga, saking ramah dan sayangnya terhadapmu. Tak pernah sekalipun mereka kesal, bahkan ketika kamu datang di sela-sela waktu kami makan siang atau menoton televisi, kami tetap menyambutmu dengan hangat.

“Kini berbeda masanya, di mana kita bukan lagi sebagai pasangan, melainkan sebatas teman. Tak masalah bagiku, pun bagimu. Tapi, ibuku yang dulu selalu menyambutmu dengan riang mulai bertanya-tanya, bagaimana kabarmu saat ini? Apa kamu baik-baik saja?”







Beberapa kali, Ibu menanyakan keberadaanmu yang sekarang. Mungkin dia berpikir, bahwa kita masih saling sayang

Aku memang belum sepenuhnya bercerita pada ibu, tentang hubungan kita yang kini sudah berakhir. Kita memang teman, tapi sangat jarang bertukar kabar. Mungkin kamu juga merasa hal yang sama denganku, yaitu rindu. Namun kamu terlalu sibuk dengan kehidupan yang baru dan tak ada waktu untuk memikirkan masa lalu.
Kamu tak perlu kuatir, ibu bertanya kabarmu bukan berarti memaksa untuk datang ke rumah lagi. Dia hanya menggenapi perannya sebagai orang tua yang wajib mencurahkan kasih sayang dan rasa peduli. Sesekali, bolehkah aku mengirimkan pesan untukmu, agar bisa ku sampaikan kabar baik bahwa kamu masih sama seperti yang dulu kepada ibu?

Bukan cuma ibu… Ayah yang dulu sering kau seduhkan kopi  dengan tangan mu juga bertanya, kapan kamu akan datang lagi?

Sama seperti ibu, ayahku yang jarang di rumah pun sering menanyakan kabarmu yang sekarang. Beliau tak hanya bertanya sekali, tapi berkali-kali ketika kita berkesempatan ngobrol dan meneguk secangkir kopi. Aku tidak bisa menjawab banyak, meski aku tahu kamu ingin kita tetap terlihat baik-baik saja di depan ayah.
Tahukah kamu, mungkin di belakangku mereka berdua sering membicarakan perihal status kita berdua yang dulunya serius tapi kini agak sedikit berbeda. Bukannya berlebihan, orang tuaku hanya ingin memastikan bahwa kamu benar-benar menjagaku dengan baik dan takkan ada perselisihan berarti yang berujung luka. Ya, cuma itu saja.

Dibalik senyum ibu yang seperti biasa, tiba-tiba dia menegurku dengan nada kecewa. Kenapa kamu tak pernah membalas pesan singkatnya?

“Aku, ayah dan ibu memang satu paket lengkap yang tidak bisa secepat itu melupakan kebaikan seseorang. Kami tidak tahu harus bagaimana, selain membalas kebajikan itu dengan setimpal, yakni senantiasa peduli.”
Kamu jangan menganggap ibu sebagai orang tua yang cerewet atau banyak maunya. Beliau tidak begitu, apalagi denganmu, perempuan cantik yang sudah dianggap seperti anaknya sendiri. Mengobati rasa rindu terhadapmu mungkin sangat sulit baginya, sehingga mengirim pesan singkat kepadamu menjadi salah satu cara untuk sedikit menawarnya. Lalu, apa salahnya untuk membalas pesannya walau hanya sekali?

Ibu mungkin sangat menantikan kehadiranmu. Dia juga rindu ketika kamu datang dan melahap habis semua kue buatannya, seperti dulu

“Dulu waktu pacarmu sering datang ke sini, kue bikinan Ibu selalu habis. Dia lahap, Ah, Ibu kangen dia.”Ibu.

Ingatkah kamu, ketika ibu menyuguhimu dengan sepiring kue kering beraneka rupa dan rasa? Ibu pun tak pernah lupa untuk memperbanyak rasa coklat favoritmu dan hanya sedikit rasa jeruk, favoritku. Dia begitu bahagia ketika kue buatannya habis karena kamu habiskan, begitu juga aku.

Akhirnya ibu benar-benar serius mengajakku bicara. Dia kembali bertanya dan berharap kita baik-baik saja. Menurutmu, aku harus menjawab apa?

Tidak terasa, kini sudah hampir 4 tahun kamu absen berkunjung dan kita sangat jarang bertemu. Pertanyaan ibu dan ayah tentangmu kini juga semakin berkurang. Mereka mungkin sudah menyadari sendiri, bahwa kita tidak dalam keadaan baik-baik saja, malah sebaliknya. Dulu mungkin kita punya komitmen teguh untuk membawa hubungan ini ke jenjang yang lebih tinggi, tapi mau bagaimana lagi ketika yang berbicara adalah hati.
Kini ibu sudah tahu dan maklum, hubungan kita memang tak bisa dilanjutkan lagi. Ibu juga percaya bahwa keputusan yang kita ambil adalah yang terbaik dan paling tepat untuk kelangsungan hidup kita, dua orang yang belum ditakdirkan untuk berjodoh.
Ibu titip pesan, jaga diri baik-baik di sana. Tak ada kata benci dalam kamusnya, meski sedikit kecewa karena tahu bahwa hubungan kita cukup sampai di sini saja.

Micha