Aku pernah terbangun dalam
keadaan gamang, sebab harapan yang terlalu tinggi. Pernah juga
terbangun dalam keadaan mati, sebab dibunuh oleh mimpi. Tapi sekali, aku
terbangun dalam keadaan hidup, namun segalanya telah berhenti. Aku
tidak mati, hanya cerita yang kuakhiri. Lalu terjerat ingatanku, pada
durma yang menyebar kebencian. Terperosok tubuhku dalam nafsu yang tak
mengenal majikan.Aku terlalu mengabaikan logika, hingga perasaan merajai seluruh indera. Aku buta, pada kenyataan. Aku tuli, pada bisik-bisik kebenaran. Aku kebas, pada sentuhan. Aku bisu, pada kejujuran. Dan hanya getir, yang kukenal di ujung bibir. Kau pernah membawaku pada sebuah titik, dan mengikatku hingga tak berkutik. Lalu kau biarkan segerombolan burung-burung pemakan bangkai, menghabisi harapanku yang abai.
Kala itu, aku mentitikan kisahku. Aku mengakhiri cerita yang bermain di kepala–yang di dalamnya, kau lah pemeran utama yang kusanjung di hadapan Tuhan. Kemudian lahir sebuah pertanyaan, kau pergi dengan tawa atau airmata.
Namun yang kutahu, ketika kutitikan kisahku, Tuhan mengenalkanku pada koma; dimana kisah hanya dipisah unsurnya, bukan dihentikan ceritanya.
Dan kini, aku terbangun dalam keadaan mengerti, bahwa bagi Tuhan, kata "selamanya", adalah kata yang memiliki makna terlalu lama. Lalu koma, layaknya sosok senja yang bertugas membagi masa. Dan kau; pagi yang kurelakan, teruntuk pagi yang lain–yang juga akan digantikan. Hingga malam, akan kembali menjadi teman setia, dalam perjalanan.
Kamu yang sedang tak ingat
kapan terakhir kali menghirup udara malam sehangat ini. Kamu yang
sedang tak ingat kapan terakhir kali tertawa lepas tanpa beban di hati.
Ah, mungkinkah kesakitan kemaren telah membuat benang-benang halus yang
bekerja dalam otakmu melupakan fungsinya yang semestinya.
Otot dan otakmu dipenuhi rasa butuh pada hal-hal yang pernah membuatmu merasa bahagia dan bahkan membuat otakmu merekamnya sebagai bahagia yang luar biasa. Kini, rasa butuh yang memanipulasi diri sebagai rindu membuatmu kembali mengulang kenangan yang (pernah) menjadi tema utamamu dalam doa pada Penguasa semesta. Dan selain tujuan bahwa perasaan ini harus tersampaikan, tak ada lagi yang kamu inginkan lagi dalam pikiran.
Memang sebagian dari hatiku yang belum rela melepaskan akan semakin mudah di manipulasi oleh rindu. And I know what, rasa rindu kurang merangsang tanpa dibubuhi kenang yang tak ingin dibuang. Yes, alasan kesekian untuk terus berada pada zona yang menurutku nyaman.
Harusnya di sebelah kanan ruang di hati atau di bidang yang masih tampak kosong itu dibubuhi doa sebelum jatuh cinta dan patah karnanya. Agar kelak jika cinta mengarahkan mata pedangnya padaku, aku tidak harus mati olehnya.
Pernahkah aku mendengar atau sekedar mendengar atau setidaknya ada yang memaksaku mendengar bahwa kegagalan hanyalah bagian dari proses untuk menemukan pilihan yang tepat. Hati yang bisa tabah karenanya akan menemukan tujuan akhir yang menurut keyakinannya adalah sebenar-benarnya; Happy ending.
Lalu jika aku merasa yakin suatu saat waktu atau sang pemilik semesta memberiku yang terbaik. Untuk apa bersedih terus dan menangis? Jika ku juga percaya ada seseorang yang setia mendoakan kebaikanku. Lalu apakah aku masih terus bersedih? Berapa tissu yang harus ku korbankan untuk menghapus kesedihanku itu?
Dan wahai hati, janganlah terus merutuki kecewa, sakit, dan luka. Lalu memaki dia yang pernah ku jadikan ratu. Karena yang sebaik-baiknya mencinta, tahu kapan harus melepas dan kembali terbang bebas tanpa beban yang mengikat.
Jika sebagian dari kalian melihatku berbeda maka biarlah aku berbeda dengan jalan yang aku pilih. Tidak ada yang sia-sia, selama mempercayakan segala hal baik pada Penciptamu. Kegagalan jangan menghalangi kamu untuk terus berkarya. Saatnya bangkit dan percaya diri.
Otot dan otakmu dipenuhi rasa butuh pada hal-hal yang pernah membuatmu merasa bahagia dan bahkan membuat otakmu merekamnya sebagai bahagia yang luar biasa. Kini, rasa butuh yang memanipulasi diri sebagai rindu membuatmu kembali mengulang kenangan yang (pernah) menjadi tema utamamu dalam doa pada Penguasa semesta. Dan selain tujuan bahwa perasaan ini harus tersampaikan, tak ada lagi yang kamu inginkan lagi dalam pikiran.
Memang sebagian dari hatiku yang belum rela melepaskan akan semakin mudah di manipulasi oleh rindu. And I know what, rasa rindu kurang merangsang tanpa dibubuhi kenang yang tak ingin dibuang. Yes, alasan kesekian untuk terus berada pada zona yang menurutku nyaman.
Harusnya di sebelah kanan ruang di hati atau di bidang yang masih tampak kosong itu dibubuhi doa sebelum jatuh cinta dan patah karnanya. Agar kelak jika cinta mengarahkan mata pedangnya padaku, aku tidak harus mati olehnya.
Pernahkah aku mendengar atau sekedar mendengar atau setidaknya ada yang memaksaku mendengar bahwa kegagalan hanyalah bagian dari proses untuk menemukan pilihan yang tepat. Hati yang bisa tabah karenanya akan menemukan tujuan akhir yang menurut keyakinannya adalah sebenar-benarnya; Happy ending.
Lalu jika aku merasa yakin suatu saat waktu atau sang pemilik semesta memberiku yang terbaik. Untuk apa bersedih terus dan menangis? Jika ku juga percaya ada seseorang yang setia mendoakan kebaikanku. Lalu apakah aku masih terus bersedih? Berapa tissu yang harus ku korbankan untuk menghapus kesedihanku itu?
Dan wahai hati, janganlah terus merutuki kecewa, sakit, dan luka. Lalu memaki dia yang pernah ku jadikan ratu. Karena yang sebaik-baiknya mencinta, tahu kapan harus melepas dan kembali terbang bebas tanpa beban yang mengikat.
Jika sebagian dari kalian melihatku berbeda maka biarlah aku berbeda dengan jalan yang aku pilih. Tidak ada yang sia-sia, selama mempercayakan segala hal baik pada Penciptamu. Kegagalan jangan menghalangi kamu untuk terus berkarya. Saatnya bangkit dan percaya diri.