My name

My name

Kamis, 20 Oktober 2016

Mengikhlaskan, Percaya pada Tuhan Sepenuhnya

Aku tak menampik mengatakan aku pernah bersama denganmu, mengisi hari-hariku dengan senyum dan wajahmu, memimpikan hal-hal indah dan masa depan yang akan kita bangun di kemudian hari. sampai kita benar-benar lupa, bahwa ada Tuhan yang akan mengatur semuanya.

Setidaknya aku masih bisa bersyukur, ketika Tuhan menyadarkan bahwa apa yang aku jalani adalah salah. Aku berterima kasih sekali padamu, karena dengan tegas memutuskan mengakhiri kisah haram itu. Bohong, jika aku katakan aku tidak akan mengingatmu dan akan melepaskanmu dengan mudah.
Berkali-kali aku coba untuk pergi darimu, menganggap semuanya akan baik-baik saja, berkali-kali pula aku harus tega menikam hatiku sendiri untuk memendam namamu di dalam kepalaku.
Aku tidak tahu, tetapi mungkin Tuhan memang tengah menyiapkan kisah terindah untuk diri ku. Rencana yang tak akan pernah ku duga. Bukankah Tuhan memang sudah berjanji bahwa dia akan menyiapkan yang terbaik untuk hambanya?, lalu akan kubiarkan diri ini pasrah, mengikuti alur kemana takdir Tuhan membawaku pergi, kepada siapa hati ini di labuhkan kembali, tentu dengan Ridho dariNya. Aku tak akan protes, tak akan banyak bicara, aku hanya ingin mencintai kehilangan ini dengan sebaik-baiknya, menjalani hari-hari dengan tulus.
Mungkin, tangis yang kau beri saat itu adalah cara Tuhan menyadarkanku, bahwa Cinta di dunia ini hanya ada satu, dan karena kehilangan ini pula aku bisa kembali mendekat pada-Nya.
Terkadang rindu memang tak pernah berbaik hati membiarkan aku tenang, dia selalu datang, mengetuk pintu hati ini meminta agar tetap dizinkan masuk. aku tak akan membunuh rasa rindu itu, aku akan memeluknya dalam bait-bait doa yang kupanjatkan kepadaNya di atas sajadah dalam sujudku.Mungkin, Tuhan ingin kita sama – sama saling merindukan dalam bait-bait Doa yang kita panjatkan kepadaNya. Dan malam ini aku kembali hadir dalam cerita yang sama, cerita yang tiada hentinya aku beritakan pada duniaku.Wahai wanita yang dulu selalu menghabiskan waktunya untukku, apa kabarmu hari ini? Semoga selalu sehat ya, baik hati maupun raganya.
Aku hanyalah bercerita pada duniaku, terlebih lagi pada Penciptaku. Sudah lelah rasanya aku menceritan kepada mereka, bahkan mereka hampir muak ketika yang aku ceritakan hanyalah tentang masalah ini saja. Sudah banyak sahabat dan teman menasehatiku untuk segera menjauhimu,

Aku masih ingat jelas pertama kali kau menginginkanku untuk menjadi pilihan hatimu, entah itu karena suatu kebetulan atau karena kekosongan harimu. Dulu kau banyak menghabiskan waktu bersamaku, semua berjalan begitu menyenangkan hingga aku lupa jika suatu saat nanti bahagia itu tergantikan dengan luka, apa aku bisa tetap berdiri tegar dihadapanmu? Entahlah, aku hampir lupa untuk memikirkan jawaban tersebut, pertanyaan yang selalu muncul ketika aku hendak terlelap di malam hari.
Kali ini pertanyaan itu hadir, kau menghadirkan luka itu menggantikan bahagia yang pernah kau beri. Namun, aku masih tetap ikhlas memaafkan, begitu terus hingga berulang kali dan tanpa sadar kau berjanji untuk tidak mengulanginya kembali, dengan ikhlas aku masih tetap memaafkanmu, mencoba mengobati luka yang kau beri dengan cara ku sendiri. Hingga aku bertanya sebenarnya siapa aku di hidupmu? Adakah posisiku di hatimu? Mengapa selalu berulang kau beri luka yang sama?  jika aku hanya menjadi orang yang kau cari ketika kau sepi, haruskah luka ini kau lakukan secara berulang-ulang? Aku memang tak pernah memperlihatkan lukaku sepenuhnya kepadamu. Tapi sadarkah kau? Aku adalah luka yang tak berdarah, tak memiliki wujud untuk kau sembuhkan. Karna aku sadar takkan mungkin kau sanggup untuk menyembuhkan luka ini. Sadarlah kelak akan ada waktunya kau merasakan apa yang aku rasakan. Bukan percaya karma, tapi inilah hidup. Apa yang kau tuai saat ini akan kau peroleh suatu saat nanti. Namun tenanglah, bukan maksudku untuk berbalas dendam. Cukuplah hanya perasaanku yang tak pernah terbalaskan, bukan yang lain.
Kurasa inilah akhir dari perjuanganku, kelak wanita yang ku impikan akan hadir dengan sejuta kebahagiaan untukku. Maafkan aku yang tak pernah bisa untuk mewujudkan kebahagiaanmu.