My name

My name

Jumat, 15 Juli 2016

Tugasku Untuk Mencintaimu Sudah Selesai

Tentang hidup. Ya hidup. Memang benar hidup adalah pilihan. Kita sendirilah yang menentukan jalan mana yang akan kita jalani. Namun ketika hidupmu dihadapkan pada banyak pilihan, bukan berarti kau bisa mengambil sikap seenaknya, bukan berarti kau bisa bebas mengambil jalan yang ingin kau lalui tanpa memikirkan yang lain.  Bukankah kau pernah berpikir bahwa kau tak ingin dijadikan pilihan?

Lantas apa kau pikir, aku dia dan mereka pun mau dijadikan pilihan? Kau bisa semudah itu bilang percayalah tapi tahukah kau? Bagi beberapa orang, termasuk aku, percaya bukanlah hal yang begitu mudah untuk dilakukan. Ada banyak hal yang terjadi dalam hidupku yang membuatku begitu rentan atas sebuah rasa percaya. Dan ketika aku memutuskan untuk percaya padamu, saat itu juga aku sedang berjuang keras untuk mengalahkan rasa takutku.

Aku, yang pernah merasakan rasa pahitnya sebuah kehilangan, yang pernah merasakan pedihnya kepercayaan yang tak lagi dihargai. Apa kau tahu bagaimana rasanya? Ketika kau percaya dan kepercayaanmu terkhianati begitu saja? Aku tahu. Aku paham. Sungguh, aku tak pernah ingin lagi percaya. Aku tak pernah menyayangkan bila hidupku berjalan tak sesuai keinginanku, aku hanya menyayangkan jika di saat kau bisa membuat pilihan, kau justru tak bisa memilih dengan pertimbangan hati dan logika. Dan ketika kau dihadapkan pada pilihan yang kau anggap sulit, sudahkah kau mengadu pada Sang Pemilik Kehidupan?  Menepilah sejenak dari hiruk pikuk kehidupan dan mendekatlah pada Sang Pencipta. bersujud dan berdoa, meminta petunjuk yang terbaik dariNya. Allah S.W.T. Tak akan pernah menjerumuskan umatNya, Dia akan selalu memberi petunjuk bahkan lewat hal-hal yang terlihat mustahil bagi kita. 

N A M U N ! ! ! 

Tugasku mencintaimu dengan sebaik-baiknya sudah selesai, sekarang tugasku adalah melupakanmu dengan sekuat-kuatnya. Aku terima itu, karena kelak kamu akan sadar bahwa takkan ada yang mampu mencintaimu sebaik apa yang pernah aku lakukan untukmu, tak ada satupun. Bahkan masa lalumu yang mungkin bisa terima kau seperti aku.

Tugasku mencintaimu dengan sebaik-baiknya sudah selesai, sekarang tugasku adalah melupakanmu dengan sekuat-kuatnya. 

Terima kasih, berkatmu, aku seperti kehilangan selera untuk mencintai siapa-siapa, entah karena aku berada di titik kelelahanku memperjuangkan suatu hal yang tak mau diperjuangkan, dan mengikhlaskan sesuatu hal yang memang harus kulepaskan.

Terima kasih Tuhan, akhirnya kau tunjukan padaku bahwa dia memang pantas diletakkan di masa lalu, bahwa dia memang tak pantas lagi untuk mendapatkan cintaku. Jangan pernah datang hanya untuk kembali sayang, aku berjuang sehebat ini bukan untuk kau jatuhkan lagi, jaga apa yang kamu punya sekarang, jangan lepaskan lagi cintanya untuk siapapun, jangan kau palingkan cintanya seperti halnya kau palingkan cintaku.

Karena sesuatu yang telah pergi, meskipun kembali, ia takkan sama lagi. Aku beserta doa dan harapan yang tiada henti selalu mendoakan kebahagiaanmu, maaf jika aku ternyata telah memisahkan cinta kalian, maaf jika aku pernah membuatmu begitu jauh darinya, darimu aku belajar banyak hal, aku belajar menghargai apa yang aku punya sebelum kehilangan.

Ingatlah kelak ketika kamu sudah bahagia nanti, aku pernah memegang erat tanganmu, dengan segala debat yang hebat untuk menolak sebuah kepergian.

Aku pamit dari hidupmu, maaf aku tak bisa lagi menjagamu, karena Tuhan memberikanku waktu yang terlalu singkat untuk mencintaimu, sehingga aku belum bisa membahagiakanmu, aku titipkan kisah kita ya, aku titip hal bodoh yang selalu kita lakukan bersama, mungkin di mata orang itu bodoh, tapi buat kita itu adalah kebahagiaan. 

Kuyakin kuasa Tuhan adalah jalan pertama, semoga suatu saat nanti kita akan bertemu dengan status yang berbeda entah kita akan satu atap atau berbeda atap,  semua adalah jalan Tuhan. Berdoalah sebaik mungkin semoga Tuhan selalu melindungi kita.

Kamis, 14 Juli 2016

Ketika Aku Terjebak dalam Persimpangan Penuh Kebigungan




            Berbicara soal cinta, mungkin setiap orang mendeskripsikannya dengan cara yang berbeda. Terlalu banyak yang menjelaskan kata ini dengan kalimat yang tidak semua sama. Cinta adalah saat di mana hati mulai mencecap rasa. Setidaknya itu menurutku.
Banyak orang dengan gamblang mengutarakan cinta. Tapi sulit sekali memberikan makna. Berbeda sekali denganku. Sulit bagiku untuk mengucap satu kata itu dengan lantang. Bukan tidak bisa, tapi apalah arti dari sebuah kata kalau hanya diucapkan dengan nada sumbang tak berima. Omong kosong. Hanya kata yang terucap lalu bisa saja disamarkan dengan datangnya angin, lalu dibawanya hingga lenyap. Tidak ada yang tersisa dan terendap.
Itukah yang diinginkan? Bukankah sejatinya cinta datang dari rasa yang perlahan mulai mendetakan hati? Aku tidak akan membicarakan cinta sedini ini. Setidaknya sebelum aku bisa mengucap cinta kepada dia yang mendetakan hati.
Aku harus belajar terlebih dahulu. Belajar untuk mengenali detak ini karena apa. Mencoba mengerti memahami setiap rasa yang tergambar dan memaklumi apa yang sudah tersirat. Barulah aku berani dengan tegas menyebutnya sebagai cinta. Sebelum sampai di situ, mungkin saja ini hanya sebagian dari rasa kagumku terhadapmu. Yang bisa saja menguap atau bahkan mengabur hilang tak berbekas.
Teruntuk kamu, sebuah nama yang seringkali muncul dalam doaku. Maafkan jika saja aku dengan lancang diam-diam mengagumimu. Berbisik kepada Sang pemberi cinta, ini sebenarnya perasaan yang seperti apa. Aku tidak berani bilang ini cinta. Bukan ingin menjadi pengecut yang hanya bisa bersembunyi dari kata “teman”. Tapi aku sendiripun sebenarnya gamang.
Jangan khawatir aku tidak akan mengganggu atau mengusik mu. Saat ini, aku hanya perlu belajar atasnya. Meyakinkan diri sendiri dari persimpangan keambiguan. Selagi aku belajar untuk itu. Aku berusaha untuk memantaskan diriku. Sebelum akhirnya setiap rasa bermuara jua. Memperbaiki diri agar kelak jika sudah waktunya tiba, aku tidak lagi bersanding dengan kata pesimis yang menjadi keraguan. Yaa, aku sedang dalam upaya pemantasan dan perbaikan diri.
Bukan ingin terlihat sempurna di hadapanmu nanti, karna memang tidak ada yang sempurna di dunia ini. Aku pun menyukai mu bukan karna kesempurnaanmu, justru karna apa adanya dirimu yang membuat ku ingin tau banyak hal tentang mu. Tapi setiap upaya perbaikan ini, agar kamu atau nama yang digariskan untukku nanti akan mengerti. Setidaknya kamu atau yang lainnya dapat menilai dari upaya yang sedang aku lakukan. Bukan sekedar menelisik masa laluku.

Setiap orang memiliki masa lalu, entah itu baik atau buruk sekalipun. Bukan ingin mengenyahkan cerita di masa lalu. Tapi bukankah hidup kita berjalan ke depan? Masa lalu kunci dari upaya perbaikan di kemudian.
Sebaik atau seburuk apapun itu, masa lalu tetap ada di balik punggungku. Dan aku melangkah untuk ke depan bukan berbalik ke belakang. Harapku untuk siapapun yang ada dan akan menemani langkahku nanti. Entah itu kamu atau yang lain, semoga akan berbaik hati menerima apapun yang sudah terekam dibelakangku. Mungkin saja aku pernah menjadi pribadi yang buruk. Tapi percayalah saat ini aku sedang dalam upaya perbaikan. Berdamai dengan diri sendiri atas apa yang sudah terjadi agar dendam dan sakit tak terlanjur mengakar.
Terkadang sering kali bertanya dalam diri, menebak-nebak dan mencoba mencari celah yang bisa saja tersirat, saat kita sedang bersama. Adakah bagimu perasaan berbeda ketika percakapan antara kita mulai bermula? Kalau saja boleh menawar soal rasa. Mungkin aku akan coba untuk tidak memiliki ini, dan memilih untuk berdetak atas nama yang lain. Tapi kepada siapa harus bernegosiasi? Perkara rasa itu soal hati yang menguasai, kadang akal pun sering kali terasa tumpul karenanya.

Selasa, 12 Juli 2016

Tak Hanya Soal Materi, Ini 5 Hal Yang Bakal Bikin Cewek Gak Mau Pergi Dari Sisimu


Kamu tuh cowok, harus kerja keras supaya mapan

Mapan di sini lebih sering dianggap sebagai materi, dan cowok dituntut untuk memiliki itu ketika mereka dianggap dewasa. Padahal kedewasaanya sendiri tak bisa diukur hanya dengan materi semata. Cowok juga perlu memiliki beberapa hal lain di luar dari materi, yang lebih mengarah ke personalnya sendiri. Sebab percuma materi oke, tapi kedewasaan sikap dan sifat yang sebenar-benarnya tak tercermin dengan baik.
Bukankah cowok perlu tegas? Bukankah cowok harus bisa diandalkan menjaga tak hanya dirinya tapi juga orang lain? Kira-kira hal-hal itu detailnya seperti apa? Nih, perlu di simak baik-baik, boys!






1. Materi bisa dicari, tapi ketegasan diri perlu ditumbuhkan dan dipupuk sendiri sejak dini.


Kamu boleh bangga dengan materi yang dimiliki sekarang. Toh buatmu materi bukan lagi hal yang sulit untuk dicari. Namun, sebelum kamu benar-benar jatuh pada kesombongan diri. Coba tengok lagi, apa kamu sudah benar-benar menjadi cowok dewasa yang punya ketegasan?
Mengingat ketegasan itu tak seperti materi yang bisa dicari. Untuk memiliki sikap itu kamu perlu menumbuhkannya sendiri bibit yang sudah ada dalam dirimu. Sedangkan untuk membuatnya tetap bersemayan di pikiranmu, kamu perlu terus memupuknya sejak dini. Sebab kebanggaan sejati seorang cowok itu ada diketegasan dirinya. Materi hanya perhiasan yang untuk mempertampan pribadimu.

2. Rasa tanggung jawab nggak hanya ke diri sendiri, tapi juga ke semua orang terdekatmu mulai dari orang tua, saudara sampai pacar.

Tanpa diberi tahu orang lain, kamu seharusnya sadar dengan kewajibanmu sebagai cowok di keluarga, juga di lingkungan sekitar. Sebagai cowok, kamu sudah pasti menjadi sosok yang diandalkan, sekalipun bukan anak pertama dalam keluarga. Terlebih saat kamu mulai memutuskan untuk menjalin hubungan dengan lawan jenis. Kamu tahu konsekuensinya jika melakukan kesalahan kecil saja.
Semua kesadaran atas kewajiban serta konsekuensi itu tak lain sebagai bagian dari rasa tanggung jawab yang tak melulu ke dirimu sendiri. Kamu merasa harus memikirkan sekaligus berusaha mementingkan kenyamanan orang-orang terdekatmu.

3. Mandiri atau mapan tak melulu soal materi, tapi juga kepersoalan yang biasa kamu anggap remeh yang berkaitan dengan dirimu sendiri.


Makan sendiri, kamu sudah terbiasa. Tinggal sendiri pun sudah pasti bisa. Tapi sayangnya kedewasaan seorang cowok nggak hanya dilihat dari hal-hal semacam itu saja. Mapannya cowok juga nggak hanya diukur dari materi yang dipunya. Justru hal remeh-temeh seperti saat menghadapi masalah, sampai urusan mengambil keputusan, bukankah itu semua butuh kemandirian dan kemapanan perilaku.
Jangan sampai kamu jadi cowok cukup umur yang masih sering takut untuk menghadapi atau memutuskan sesuatu. Ingat kamu kelak akan menjadi kepala rumah tangga lho!

4. Jangan salah, cowok pun perlu memiliki keahlian yang umum dipunya cewek, seperti sekadar memasak atau bersih-bersih.


Kata siapa masak-memasak atau kegiatan bersih-bersih itu urusannya cewek saja? Asal kamu tahu, keahlian itu jika kamu miliki bisa jadi nilai plus tersendiri bagi kebanyakan cewek di luar sana. Mereka merasa kelak kamu pasti bisa diajak berbagi bersama dalam urusan mengurus rumah. Kamu akan bisa lebih menghargai segala sesuatu yang mereka lakukan ini. Sebab kamu pun tahu memasak atau bersih-bersih pun butuh yang namanya keterampilan.

5. Keinginan serta kesadaran untuk menjaga seseorang tak hanya fisik tapi juga perasaannya.

Secara fisik, cowok dianggap lebih kuat. Sedangkan secara status, cowok dianggap lebih punya kendali hampir dibanyak hal. Dari itulah akhirnya bermula pandangan umum, jika cowok itu sosok yang harus selalu bisa diandalkan untuk hal menjaga dirinya serta orang lain. Tapi menjaga juga tak hanya soal fisik belaka. Kamu yang dewasa sudah seharusnya punya keinginan dan kesadaran yang sama untuk menjaga perasaan orang di sekitarnya termasuk dia kekasih pujaan hatimu.
Nah, kira-kira dari kelima hal itu mana yang sudah kamu punya? Kalau memang sudah dimiliki semua, tandanya kamu pun siap untuk jadi imam dia yang sedang menunggumu.