Dia lukaku. Aku yang Harus Menyembuhkannya

Apa yang salah,.? Rasanya
aku sedang melangkahkan kakiku di setapak yang mulus, tapi entah mengapa
rasanya hatikulah yang berat untuk menapak dan jalan yang terlihat
mulus pun terasa dipenuhi beling.
Oh ini hanya ilusi. Baiklah, akan ku coba menutup mata.
Dan tiada yang berbeda, beling itu masih terasa.
Tapi kakiku baik-baik saja. Lalu dari mana rasa sakit itu berasal? Ku pikir itu berasal dari "sini".
Entah
karena lupa atau karena aku memang tidak tahu cara untuk benar-benar
menyembuhkannya. Awalnya aku berpikir akan baik-baik saja dan hanya
butuh balutan kecil untuk menutupinya, tapi akhirnya aku berpikir
bagaimana mungkin aku membalutnya tanpa serpihan yang lain,.?
Baiklah,
hal tersulit sekarang bukanlah bagaimana aku bisa membalutnya, tapi
bagaimana aku bisa mengumpulkan serpihan yang lain,.? Apa aku harus
kembali menapaki jejak kegagalan untuk menemukannya,.?
Baiklah, jika itu satu-satunya jalan maka akan ku coba.
Tapi………………..
ku rasa aku tetap saja kurang beruntung. Aku lupa jika serpihan
terbesarnya masih tertinggal padamu. Iya, dia tertinggal bukan karena
masih sedang berharap, tapi karena masih dipenuhi begitu banyak tanya
yang seharusnya bisa terjawab. Aku telah mencoba meyakinkannya untuk
segera beranjak, tapi dia terjebak dalam jemari ketidakpedulianmu.
Bisakah
aku membuat sebuah permohonan,.? Tenanglah, aku takkan meminta semua
untuk kembali seperti dulu. Jika mungkin, aku hanya akan minta satu hal:
bisakah kau lepaskan kepingan yang masih tersisa padamu,.? Lepaskan
saja, aku akan memungutnya. Bisakah,.? Ku mohon, aku harus sesegera
mungkin mandapatinya untuk bisa benar-benar membalut semua serpihannya.
Entahlah apa nantinya dia benar-benar bisa kembali utuh atau tidak, tapi satu yang pasti bahwa dia akan meninggalkan bekas.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Terima Kasih Sudah Mampir Gan !!!