Usai kepergianmu, jiwaku merasa demikian kosong. Entah mengapa aku bisa terbawa candu bersamamu. Namun, kini komunikasi kita tak lagi seperti dulu. Aku tak tahu apa alasanmu berlaku demikian kepadaku. Dan siang itu di akhir pertemuan kita,  Kupandang sorot matamu yang seolah bahagia namun sendu di dalamnya. Dengan mata yang digenangi air mata, aku bertanya-tanya di hadapanmu. Mengapa kepergian lelaki sepertiku bisa membuatmu demikian hancur? apakah  aku terlambat hadir di hidupmu ketika kamu sudah bersamanya? Mengapa harus ada  perpisahan ketika kau mulai nyaman dengan hubungan kita yang kau sembunyikan? 
Namun, Mengapa kau ajari aku bahagia dan kau rangkai kenangan manis bersama namun pada akhirnya kau memilih dia? 
Aku memberanikan diri menatap matamu siang itu. Aku seperti ingin berteriak sekencang-kencangnya bahwa aku mengharapkanmu. Lebih lekat aku menatap, aku ingin menyadarkan diriku sendiri bahwa orang yang siang itu tersenyum di depanku bukanlah sosokmu yang dulu. Namun segala keinginanku fatamorgana. Kamu mulai berbicara, dan perlahan menjelaskan mengapa kamu memilih pergi. Katamu, kita tidak bisa melangkah bersama lagi, dan bukan aku yang salah ketika kamu memutuskan untuk mengakhiri. 
Namun dengan segala penjelasanmu mengapa aku masih bertanya-tanya dan anganmu selalu berharap aku kambali?
Aku melihat raut wajahmu lagi dan lagi. Aku tau pada dasarnya salah satu dari kita tak ingin hubungan ini berakhir. Namun, kamulah disini yang berperan sebagai tokoh utama. Di persimpangan jalan yang menuntutmu harus memilih aku atau dia, akhirnya kamu memilih dia. Katamu, kebersamaan kita tidak akan membuatku bahagia. Ada hati yang demikian hancur jika kamu memilihku. Ada sesuatu yang tidak akan pernah bisa membuat kita menyatu. Akan ada luka baru yang lebih menyakitkan daripada kehilangan dirimu. Dengan berbagai pertimbangan itu, kamu memilih meninggalkanku. Aku bisa apa? 
Bukan hal yang mudah bagiku, menerima kepergianmu. Namun aku akan belajar untuk itu.
Aku butuh waktu untuk menata hati. Menenangkan batin bahwa aku perlu sadar kebersamaan kita tak akan pernah ada lagi. Aku harus paham bahwa perasaan keluargamu lebih utama dibanding lukaku ditinggalkan olehmu. Aku harus siap menerima segala bentuk caci dan hujat ketika orang-orang di luar sana tau aku pernah mengukir kisah keliru bersamamu.
Aku menuntun diriku sendiri untuk tidak lagi mengingatmu, menghapus semua yang berkaitan denganmu, bahkan belajar membencimu.
Siang itu, setelah cukup mendengar segala penjelasanmu, aku menyuruhmu berlalu dari hadapanku, Kau meninggalkanku. Aku masih ingin melihat dirimu yang pernah menjadi satu-satunya bagiku. Rasanya aku ingin menahanmu untuk selalu berada di dekatku. Namun keadaan yang seolah kembali menjelaskan, bahwa yang terbaik dari hubungan kita adalah berpisah. Aku mengingat satu potret kita berdua, sebagai kenangan bahwa pernah ada kisah diantara kita. Senyum kita abadi dalam foto itu, meskipun batin kita demikian pilu. 
Namun,perlu kau tau. Akuu hanya tidak ingin melihatmu demikian hancur karena selalu mengenang kebersamaan kita yang diharuskan menjumpai perpisahan. 
Kita sama-sama menata hati. Mengikhlaskan diri bahwa suatu saat satu sama lain akan menemukan pengganti.